Thursday, January 13, 2011

'Tadabbur' Pintu Kefahaman

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,
Sudah menjadi tradisi di kalangan umat Islam menghabiskan sebahagian besar waktunya di hadapan ‘mushaf’ untuk bersungguh-sungguh dalam membaca Al-Qur'an dan mengkhatamkannya berulang kali, bahkan saling berlumba-lumba untuk mengkhatamkan sebanyak-banyaknya.

Tidak diragukan lagi usaha seperti ini mengandungi tujuan yang positif dari beberapa seginya seperti :
  1. Perhatian kaum muslimin terhadap kitab suci mereka.
  2. Kecintaan dan keterikatan mereka terhadapnya.
Namun, sangat sayang sekali bahwa yang menjadi pusat perhatian mereka hanya tertumpu kepada huruf-huruf dan lafadz Al-Qur'an sahaja tanpa memahami isi serta makna lafadz tersebut yang boleh menjadikan seseorang istiqamah terhadap perintah-perintah Allah dan berpegang teguh di jalanNya yang lurus sebagaimana firman Allah swt :

“Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus.” (QS Al-Isra’ : 9)
Namun ternyata, kita sangat jauh dari apa yang dikehendaki oleh Al-Qur'an.
Sebagai bukti nyata, tatkala seseorang di antara kita membaca ayat demi ayat, surah demi surah dan mengkhatamkan berkali-kali, akan tetapi bacaannya itu tidak meninggalkan jejak pada perilaku dan akhlaqnya.

Bahkan jika kita menanyakan kepada mereka apa yang dapat mereka renungkan dari ayat-ayat yang dibaca, niscaya kita tidak akan mendapatkan jawaban apa-apa dari mereka bahkan yang penting bagi mereka hanya mengumpulkan pahala yang banyak sebagaimana yang dikhabarkan oleh Rasulullah saw :
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur'an maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan dinilai dengan 10 semisalnya (10 kebaikan), saya tidak mengatakan ‘alif’, ‘lam’, ‘mim’ satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (Hadits hasan, riwayat Tirmidzi dari Abdullah bin Mas'ud)

JANGAN SEKADAR MEMBACA
Sebenarnya bukan seperti itu yang diinginkan oleh Rasulullah saw.
Kalaulah Al-Qur'an hanya berkaitan dengan banyaknya pahala yang akan kita dapatkan ketika membacanya, maka yang lebih baik adalah kita mengalihkannya kepada amalan lain yang akan memberi kita pahala yang lebih besar lagi sebagaimana yang dikhabarkan oleh Rasulullah saw :
“Barangsiapa masuk ke sebuah pasar kemudian mengucapkan kalimat ‘laa ilaaha illa-llah wahdahu laa syariika lahu, lahulmulku wa lahulhamdu yuhyi wa yumitu, wa huwa hayyun laa yamuutu bi yadihil khoir wa huwa 'ala kulli syaiin qodiir. (Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya, kepunyaanNya kerajaan langit dan bumi, bagiNya lah segala puji yang menghidupkan dan mematikan. Dan Dia itu hidup tidak akan mati, digenggamanNya lah semua kebaikan dan Dia Maha Kuasa terhadap segala sesuatu), dicatat baginya beribu-ribu kebaikan dan dihapus darinya beribu-ribu kesalahan dan dia akan diangkat beribu-ribu darjat dan akan dibangunkan untuknya rumah di syurga” (Hadith di dalam Shahih Jami' As Shaghir)

Ini bukanlah bererti kita meremehkan pahala tilawah Al-Qur'an, akan tetapi, kita ingin meluruskan kembali persepsi terhadap cara berinteraksi yang salah dengan Al-Qur'an bahwa sebenarnya nilai dan barakah Al-Qur'an terdapat pada makna yang dikandungnya, manakala lafadz merupakan wasilah untuk mengetahui maknanya.
Oleh kerana itu, Rasulullah saw mengarahkan dan membangkitkan semangat membaca Al-Qur'an dengan diberi pengharapan terhadap pahala yang besar sepertimana sebuah perumpamaan:
‘Seorang ayah yang memberi wang saku untuk anaknya agar dia tekun belajar dalam waktu yang berjam-jam tentu sahaja dia tidak bermaksud agar anaknya hanya duduk di kerusi dan membolak-balikkan halaman buku tanpa mendapatkan kefahaman, akan tetapi tujuan si bapa tadi adalah untuk memberi motivasi agar anaknya terus belajar dengan serius supaya dia menjadi orang yang berjaya dalam hidup.’

Bila kita memperhatikan tujuan utama diturunkan Al-Qur'an dan kita hubungkan antara perumpamaan tadi dengan pahala besar yang diberikan oleh Allah Yang Maha Bijaksana atas bacaan Al-Qur'an tersebut, maka kita akan dapati bahwa tujuan dari pahala-pahala tersebut merupakan motivasi bagi kaum muslimin agar sentiasa dekat dengan Al-Qur'an supaya :
  1. Kita memperolehi petunjuk dan hidayah melalui Al-Qur'an.
  2. Kita mendapatkan kesembuhan jiwa melalui ubat dan ramuannya.
Adapun kalau kita mendekatkan padanya tanpa tujuan yang jelas kecuali hanya ingin mendapatkan pahala bacaan semata-mata tanpa memperhatikan makna yang dikandungnya, maka amat jelas bahwa kita akan rugi dengan interaksi yang kaku ini dan Al-Qur'an tidak akan menjadi hidayah bagi kita.

TADABBUR, SATU-SATUNYA JALAN
Sebenarnya nash-nash Al-Qur'an sangat jelas dalam menekankan akan kepentingan bertadabbur ketika membaca atau mendengarkan Al-Qur'an, supaya tadabbur itu dijadikan sebagai wasilah untuk memahami perintah Allah dan mempengaruhi diri kita untuk kemudiannya diamalkan.
Ini sebagaimana firman Allah swt :

"Kitab ini kami turunkan kepadamu penuh dengan barakah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran". (QS Shaad : 29)
Firmana Allah lagi :

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an ataukah hati mereka terkunci?" (QS Muhammad : 24)
Untuk memahami pesanan-pesanan Al-Qur'an, kita mestilah membiasakan diri untuk membacanya dengan penuh tadabbur.
Oleh kerana itu Rasulullah saw menasihati Abdullah bin Amr bin Ash ra supaya tidak mengkhatamkan Al-Qur'an kurang dari tiga hari sebagaimana sabda baginda :
"Tidak akan faham seseorang yang membacanya (Al-Qur'an) kurang dari tiga hari." (Hadits dalam Shahih Jami' As Shaghir)
Bukankah kita selalu bersungguh-sungguh untuk memahami setiap perkataan yang kita baca atau kita dengar?
Jadi, mengapa kita tidak praktikkan kaidah ini terhadap Al-Qur'an?
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata :
"Sudah menjadi maklum bahwa setiap perkataan itu, tujuannya untuk dapat difahami, bukan untuk sekadar mengetahui lafadz-lafadznya sahaja, maka Al-Qur'an lebih utama (untuk difahami) dari semua itu."
Perkara ini juga dikuatkan oleh Ustaz Hasan Al-Hudhaibi yang berkata :
"Yang menjadi panduan seseorang dalam tilawah Al-Qur'an bukanlah seberapa banyak ia membacanya, namun sejauh mana ia dapat mengambil manfaat dari hasil bacaannya. Al-Qur'an tidak akan turun sebagai barakah kepada Nabi saw dengan lafadz-lafadz yang tidak bermakna. Sesungguhnya barakah Al-Qur'an itu adalah pada saat kita mengamalkannya, dan saat kita mengambilnya sebagai manhaj hidup yang menerangi jalan orang-orang yang menempuhnya. Maka ketika kita membaca Al-Quran, mestilah diniatkan untuk merealisasikan kandungan makna tersebut dan itu hanya boleh dilakukan dengan mentadabbur ayat-ayatnya, memahami dan mengamalkannya."

TADABBUR, WASILAH BUKAN TUJUAN
Sudah tentulah seseorang yang menyertai tilawah  di atas dasar kefahaman dan tadabbur sebagaimana Imam Al-Qurtubi menyatakan dalam tafsirnya tentang ayat :
"Apakah kamu tidak mentadabbur Al-Qur'an. Kalaulah ia bukan dari sisi Allah tentu mereka akan mendapati pertentangan yang banyak didalamnya.” (QS An-Nisa’ : 82)
Ia mengatakan :
"Ayat ini menunjukkan atas (hukum) wajibnya mentadabbur Al-Qur'an untuk mengetahui maknanya."
Maka tadabbur Al-Qur'an, sekalipun diwajibkan ke atas para pembacanya atau atas pendengarnya, tetapi tadabbur itu sendiri bukanlah merupakan tujuan utama melainkan ia adalah wasilah untuk membangkitkan kembali mu'jizat agung yang dikandungnya dan merealisasikan mu'jizat itu pada jiwa-jiwa yang menerimanya.

MUKJIZAT YANG TERAGUNG
Kita semua tahu bahwa Al-Qur'an yang ada di tangan kita merupakan mukjizat yang besar dan agung yang datang dari Allah, lebih agung dari tongkat Nabi Musa as dan dari unta Nabi Soleh as dan dari mukjizat-mukjizat lainnya.
Lalu apakah rahsia yang menjadikannya lebih tinggi dari mukjizat-mukjizat sebelumnya?
Sebahagian menjawab bahwa mukjizat Al-Qur'an tersembunyi dalam :
  1. Ushlub dan gaya bahasanya.
  2. Cabaran terhadap seluruh umat manusia yang tidak mampu membuat yang semisal dengannya.
  3. Kesesuaian untuk setiap zaman, tempat dan masa.
Semua jawaban ini benar dari beberapa segi kemukjizatan Al-Qur'an, akan tetapi ada rahsia kemukjizatannya yang lebih besar iaitu dalam keajaibannya untuk mengubah.
Mengubah manusia walau macam mana sekalipun dan dari lingkungan yang bagaimanapun sekalipun bahkan ia mengubah mereka menjadi manusia baru yang lebih ‘alim (berpengetahuan luas), ‘abid (tekun beribadah) dalam segala perkara dan keadaannya sehingga membentuk keperibadian yang digambarkan oleh Al-Qur'an :

"Katakanlah sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Rabb semesta alam"(QS Al-An'am : 162)

KEAJAIBAN ITU BERLAKU
Perubahan yang berlaku melalui Al-Qur'an bermula dari masuknya cahaya Al-Qur'an ke hati, maka setiap kali cahaya tersebut menerangi suatu bahagian dari bahagian-bahagian hati, kaburlah kegelapan yang disebabkan oleh kemaksiatan, kelalaian dan mengikuti hawa nafsu.
Sedikit demi sedikit bertambahlah cahaya ke dalam hati dan merangkaklah kehidupan hati di setiap sisinya memulai hidup baru yang belum pernah berlaku sebelumnya.
Allah swt berfirman :
"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian ia kami hidupkan dan kami berikan ia cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan dengan orang yang keadaannya berada dalam keadaan gelap gulita yang sekali-sekali tidak dapat keluar daripadanya? (QS Al-An'am : 122)
Al-Qur'an merupakan Ruh yang menyebar dalam seluruh penjuru hati maka ia menghidupkan akan setiap hati yang mati. Allah SWT berfirman :
"Dan demikianlah kami wahyukan kepadamu Ruh (Al-Qur'an) dengan perintah kami . Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al-Qur'an itu cahaya yang kami tunjuki dengan dia siapa yang kami tunjuki siapa yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami". (QS As-Syura : 52)
Ketika Ruh tersebut melekat ke dalam hati dan setiap penjurunya dipenuhi dengan cahaya iman, maka ia mampu mengusir hawa nafsu dan rasa cinta terhadap dunia dan kemudiannya akan mempengaruhi perilaku seorang hamba dan tujuan hidupnya.
Inilah yang dijelaskan oleh Rasulullah saw kepada para sahabatnya ketika ia ditanya tentang makna 'insyirah shadr' (keterbukaan dada) dalam firmanNya :
"Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk menerima agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? (QS Az-Zumar : 22)
Nabi saw menjelaskan :
“Apabila cahaya iman masuk terbukalah hatinya” (untuk menerima kebenaran).”
Kami bertanya : “Wahai Rasulullah, apa ciri-cirinya?”
Rasulullah saw bersabda :
“Kerinduan kepada kampung keabadian, merasa jauh dari dunia yang menipu, bersiap-siap untuk menghadapi kematian sebelum ia datang."

KEHEBATAN MUKJIZAT ALQUR'AN
Allah swt berfirman :
"Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung ganang dapat digoncangkan, atau bumi jadi terbelah, atau oleh kerananya, orang-orang yang sudah mati dapat berbicara (tentu Al-Qur'an itulah dia).”  (QS Ar Ra'ad : 31)
Sesungguhnya Al-Qur'an memiliki pengaruh yang sangat kuat yang tidak mungkin kita bayangkan di mana Allah mengumpamakan kepada kita dengan suatu contoh :
"Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (QS Al-Hasyr : 21]

Gunung, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Qurtubi :
“Apabila Al-Qur'an ini diwahyukan kepadanya dengan susunan dan gaya bahasa yang indah yang mengandungi pelajaran-pelajaran berharga, maka kamu akan melihat gunung yang keras dan kukuh itu pecah dan hancur berkeping-keping kerana rasa takut kepada Allah".
Dalam contoh di atas, kita diperintahkan untuk merenungkan kekuatan pengaruh yang dimiliki oleh Al-Qur'an agar menjadi hujjah bagi semua manusia dan mematahkan dalih orang-orang yang beralasan bahwa mereka tidak mempunyai kemampuan untuk mentadabbur Al-Qur'an.

JIN PUN BERIMAN
Di antara bukti kemukjizatan Al-Qur'an dan kekuatannya yang dahsyat dalam mempengaruhi adalah sebagaimana yang berlaku terhadap sekelompok jin ketika ia mendengarkan ayat Al-Qur'an.
Allah swt berfirman :
"Dan ingatlah ketika kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur'an , maka tatkala mereka mengghadiri pembacaannya lalu mereka berkata: "Diamlah kamu untuk mendengarkannya". Ketika pembacaannya telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk memberi peringatan) mereka berkata : ‘Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur'an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Wahai kaum kami , terimalah (seruan orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepadanya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari adzab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan ) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan dapat melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah, mereka itu dalam kesesatan yang nyata." (QS Al-Ahqaaf : 29-32)

BUKTI NYATA YANG TIDAK BOLEH DILUPAKAN
Al-Qur'an memiliki pengaruh yang luar biasa pada setiap jiwa yang menyambutnya dan yang selalu berinteraksi dengan sebenar-benarnya dan menjadikannya sebagai petunjuk dan ubat.
Maka berlakulah perubahan yang besar-besaran dalam keperibadiannya, sebuah kehidupan dengan rancangan dan bentuk baru yang lebih dicintai dan diridhai oleh Allah swt.
Jika kita ragu akan hal ini, marilah kita lihat apa yang berlaku kepada sahabat-sahabat Rasulullah saw.
Mereka adalah orang-orang yang berada dalam kesesatan dan kejahiliyahan yang nyata sebelum mereka masuk Islam. Kemudian, dalam keadaan yang demikian mereka masuk ke dalam "Projek Al-Qur'an" dan kemudiannya keluar sebagai manusia-manusia baru yang menjadi kebanggaan umat manusia sampai saat ini.
Ini merupakan sesuatu yang menakjubkan sebagai bukti bagi kemampuan kitab ini untuk mengubah apa yang ada dalam jiwa seseorang sampai ke akarnya.
Kalau bukan demikian, siapa yang percaya bahwa sebuah umat yang hidup di tengah padang pasir, tidak mempunyai alas kaki, berpakaian sederhana, miskin, tidak dicatat dalam sejarah, yang dianggap remeh oleh kekuatan-kekuatan tamadun pada masa itu, apabila datangnya Al-Qur'an, ia :
  1. Mengubah dan membangun kembali keperibadian mereka dengan rancangan, bentuk, dan kehidupan yang benar-benar baru.
  2. Mengangkat cita-cita dan semangat putera-putera umat itu ke langit.
  3. Mengikatkan hati-hati mereka kepada Allah agar hanya Dialah menjadi satu-satunya tujuan.
Semua ini berlaku dalam waktu yang begitu singkat iaitu hanya dalam hitungan tahun, kafilah ini berubah dengan sangat dramatik.
Maka apakah yang berlaku setelah itu?
Janji Allah menjadi sesuatu yang nyata, sebagaimana yang dijanjikannya terhadap hamba-hamba-Nya ketika mereka telah menunaikan kewajiban untuk memperbaiki diri sendiri.
Allah swt berfirman :
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum sampai mereka mengubah diri apa yang ada dalam diri mereka sendiri." (QS Ar-Ra'ad : 11)
Dalam hitungan tahun, muncullah sebuah kekuatan baru dari kegersangan padang pasir untuk menghancurkan dinasti-dinasti zalim.
Bertukarlah timbangan kekuatan dan kemudian kepimpinan umat manusia beralih ke tangan mereka.
"Maka siapakah yang lebih menepati janji (selain) Allah?" (QS At-Taubah : 111)

BILA PERUBAHAN ITU BERLAKU?
Yang membuatkan Al-Qur'an mampu mengubah para sahabat Rasulullah saw secara drastik disebabkan :
  1. Interaksi yang baik antara Sahabat ra dengan Al-Qur'an setelah mereka mengetahui betapa berharganya Al-Qur'an dan mereka betul-betul memahami untuk apa Al-Qur'an diturunkan.
  2. Mereka menjadikan Rasulullah saw sebagai guru sekaligus qudwah bagi mereka.
Sungguh, Rasulullah saw telah menghidupkan nilai-nilai Al-Qur'an dengan perilakunya dan men’shibghah’ kehidupannya dengan Al-Qur'an seakan-akan baginda adalah Al-Qur'an yang berjalan di muka bumi, membenci apa yang dibenci oleh Al-Qur'an dan ridha terhadap apa yang diridhai oleh Al-Qur'an.
Rasulullah saw membaca Al-Qur'an dengan perlahan tidak tergesa-gesa, ia melantunkan dengan indah sebuah surah dalam Al-Qur'an sehingga dirasakan bacaannya lebih panjang dari surah itu sendiri.
Pernah Rasulullah saw qiyamullail sepanjang malam dengan mengulang-ulangi satu ayat dalam solatnya yang berbunyi :
"Jika Engkau mengazab mereka maka sesungguhnya mereka adalah hambaMu dan jika Engkau mengampuni mereka maka sesungguhnya Engkau adalah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS Al-Maaidah : 118)
Bahkan kita akan terpegun kagum terhadap pengaruh Al-Qur'an yang sangat kuat ke atas diri Rasulullah saw ketika baginda memberitakan kepada kita :
"Surah Hud dan seumpamanya (Al-Haaqqah, Al-Ma'arij, At-Takwir dan Al-Qaariah ) telah membuat rambutku beruban sebelum waktunya."
Adapun pengaruh Al-Qur'an ke atas jiwa para sahabat radhiyallahuanhum, maka sebaik-baik bukti adalah ketika kehidupan mereka berganti dan tujuan berubah arah.
Jika kita ingin mengetahui kehidupan para sahabat dengan Al-Qur'an dan betapa kuatnya pengaruh Al-Qur'an terhadap mereka, maka lihatlah Abbad bin Bisyr yang saling bergantian berjaga malam bersama Ammar bin Yasir dalam peperangan Dzaturriqa'.
Ia meminta Ammar dengan secara memaksa untuk tidur di awal malam agar ia dapat berjaga ketika ia melihat tempat tersebut aman, ia pun solat. Maka datanglah salah seorang musyrikin memanahnya, ia pun mencabutnya dan meneruskan solatnya. Kemudian musyrik tersebut melemparkan panahan yang kedua, ia cabut lagi dan menyempurnakan solatnya. Apabila datang panahan yang ketiga kalinya, maka ia cabut dan menghentikan tilawah kemudian ia ruku' dan membangunkan Ammar sambil sujud. Maka ketika Ammar menanyakan kenapa ia tidak membangunkannya sejak terlemparnya panahan yang pertama kali, ia pun menjawab :
"Sesungguhnya aku ketika itu sedang membaca satu surah dan aku tidak suka menghentikannya sampai aku menyempurnakannya, ketika terus menerus orang itu memanahku aku pun ruku' dan membangunkanmu. Demi Allah, kalau bukan kerana takut menyia-nyiakan perintah Rasulullah saw untuk menjaga perbatasan, tentu aku sudah terbunuh sebelum aku menghentikan bacaan atau menyelesaikannya."

BARAKAH AL-QUR'AN
Sesungguhnya, nilai keagungan Al-Qur'an itu terdapat pada makna-maknanya dan kemampuannya untuk :
  1. Mengadakan perubahan bagi pembacanya.
  2. Merancang kembali cara berfikir akalnya.
  3. Membangkitkan ruh dalam hatinya.
  4. Mendidik jiwanya agar tumbuh menjadi seorang yang alim kepada Allah.
  5. Beribadah kepadaNya dengan ikhlas dan dengan bashirah mata hatinya.
Perkara di atas tidak akan benar-benar berlaku dengan hanya sekadar membaca sahaja, walaupun ia mengkhatamkannya beribu kali.
Ini diperkuatkan oleh para sahabat radhiyallahu anhum apabila dikatakan kepada Sayyidatina Aisyah ra :
“Sesungguhnya di antara orang-orang ada yang mengkhatamkan Al-Qur'an dua atau tiga kali dalam satu malam”, ia pun berkata: “Mereka membacanya tapi sebenarnya mereka tidak membaca, sungguh Rasulullah saw solat tahajjud semalam penuh, beliau membaca surah Al-Baqarah disambung surat Ali Imran dan surah An-Nisa’ tidak melalui satu ayat pun tentang khabar gembira kecuali ia berdoa pada Allah memintanya, dan tidak melalui satu ayat pun tentang ancaman kecuali ia berdoa agar dijauhkan darinya”.
Dari Abi Jasrah ia berkata, aku berkata kepada Ibnu Abbas, “Sesungguhnya aku membaca Al-Qur'an dengan cepat dan aku mengkhatamkannya dalam tiga hari”.
Ibnu Abbas pun berkata:
“Sungguh, membaca surah Al-Baqarah dalam satu malam kemudian aku mentadabburnya dan aku tartilkan bacaannya, lebih aku sukai daripada aku membaca seperti yang kamu katakan.”
Ibnu Mas'ud berwasiat :
“Janganlah kau membaca Al-Qur'an secepat kau membaca sya’ir, atau seperti buah kurma yang berguguran dari tangkainya, berhenti dan renungkanlah keajaiban-keajaibannya, gerakkanlah hatimu dengannya dan janganlah menjadikan akhir surah sebagai pusat perhatianmu."
Pernyataan ini juga dikuatkan oleh Imam Al-Ajri dalam bukunya ‘Akhlaq Hamalatil-Qur'an’ (Akhlaq Penghafal Al-Qur'an) :
“Sedikit mempelajari Al-Qur'an kemudian merenungkannya dan mentadabburnya lebih aku sukai daripada aku membaca banyak tanpa mentadabbur dan mentafakur, dan ayat-ayat Al-Qur'an dengan jelas menunjukkan demikian, begitu juga sunnah dan perkataan para pemimpin umat Islam”.
Imam Mujahid ditanya antara seseorang yang membaca surah Al Baqarah dan Ali Imran dengan seseorang yang membaca Al Baqarah sahaja dengan bacaan yang sama panjangnya, ruku' mereka sama, dan sujud mereka sama, mana antara mereka yang lebih utama?
Imam Mujahid pun berkata :
“(Yang lebih utama) yang membaca Al Baqarah sahaja, kemudian ia membaca :
“Dan Al-Qur'an itu kami turunkan secara beransur-ansur agar kamu membacakannya secara perlahan-lahan kepada manusia.” (QS Al-Isra’ : 106)
Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang membaca dan mentadabbur Al-Qur’an sehingga ianya menambah kefahaman, memberi kesan kepada hati dan akhirnya mengubah kehidupan kami ke arah tujuan dan matlamat yang telah Engkau gariskan. Jauhkanlah kami dari sikap membaca secara harfiah semata-mata namun hati kami lalai dari memperhatikan dan merenung makna di sebalik ayat-ayat tersebut.
Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS

Menuju Akhirat Yang Pasti

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,

Akhirat adalah sebuah kampung tempat segala-galanya berkesudahan mengakhiri jalan panjangnya.

Rumah penghabisan dan tempat segala hiruk pikuk dunia ditimbang lalu ditunaikan hak orang-orang yang mempunyai hak serta diambilkan bayaran kekurangan orang-orang yang berbuat curang.

Nun di sana kita akan bersua seperti air sungai yang mengalir berliku kesana ke mari dan bermuara juga pada akhirnya.

Namun, akhirat bukan sekadar tempat berkesudahan yang terpaksa atau tempat pembuangan segala isi alam semesta.

Ya, pada ketetapan Allah, taqdir dan kuasaNya, tidak ada yang boleh lari dari akhirat.

Bagi orang-orang yang beriman, akhirat adalah juga tempat menggantungkan :
  1. Cita-cita.
  2. Harapan.
  3. Puncak kebahagiaan abadi.
Lain pula bagi orang-orang yang bergelimang dengan dosa, bergaul dengan syaitan dan hawa nafsu, akhirat akan menjadi tempat penghempas yang menyakitkan.

Seperti longgokan sampah yang tidak mempunyai kekuatan dibawa arus, mengalir begitu deras bersama air yang mengalir. Lalu kemudiannya terhenti seketika, menebus segala kotorannya dengan cara yang sangat mengerikan.

Ia mungkin dahulu mengatakan seperti yang diabadikan oleh Al-Qur'an :

"Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), `Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia sahaja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan. '" (QS Al-An'am : 29).

Maka manusia sampah mempunyai pengakhirannya sendiri di kampung akhirat sana sebagai pengakhiran sampah atau bahkan lebih hina dari sampah.

Suasananya sangat mengharukan seperti yang digambarkan di dalam Al-Qur'an :

"Dan, jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, `Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman,' (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan) ." (QS Al-An'am : 27)

Akhirat :
  1. Jauh dan dekatnya sangat bergantung kepada cara kita mengejarnya.
  2. Lama dan sebentarnya bergantung kepada bagaimana kita berjalan menuju ke sana.
Sebenarnya kita bertaruh untuk sesuatu yang sangat pasti. Akhirat yang sering dilupakan sepatutnya hadir di setiap sela kehidupan kita, meskipun terasa asing dan tidak tergambarkan.
  1. Ia dekat tetapi sering dianggap jauh.
  2. Ia tetap nyata, walaupun sering dirasakan sebatas cerita.
Umpama pemangsa bertaring, ia boleh menyergap secara tiba tiba, tapi betapa ramai orang yang tidak pernah menyedarinya.

Akhirat umpama sahabat sejiwa.
  1. Ia akan terus melambai jika kita masih jujur padanya.
  2. Ia akan merindukan kita bila kita juga merindukannya.
  3. Ia akan menyiapkan sambutan untuk kita bila kita masih setia berjalan menuju kepadanya.
Kesetiaan seorang Mukmin yang mencari cinta sejati iaitu cinta yang :
  1. Menghidupkan.
  2. Memastikan harapan.
Kesetiaan seorang Mukmin yang mengerti bahwa DUNIA hanyalah teman sementara, kawan yang menawarkan :
  1. Mawar tapi juga durinya.
  2. Madu tapi juga racunnya.
  3. Manis tapi juga pahitnya.
Maka, di tengah-tengah kehidupan yang sangat penat dan melelahkan ini, bertanya tentang kampung akhirat yang abadi adalah suatu kemestian.

Di tengah-tengah gemerlapan kehidupan yang memacu peradaban kebendaannya, bertanya tentang khabar sahabat sejati adalah suatu kemestian :

Apa khabar akhirat?

Namun, ia akan lebih berhak bertanya :
  1. Apa khabar kita sendiri?
  2. Masihkah kita menjadi pengejar akhirat?
Di sini segalanya terasa sangat adil.
  1. Bila kita menjauhinya, akhirat pun akan menjauhi kita.
  2. Bila kita menghindarinya, ia juga akan menghindari kita.
  3. Bila kita mendekatinya, akhirat pun akan mendekati kita.
Kita mesti bersyukur dari sisi yang lain betapa dekat atau jauhnya akhirat boleh kita rasa di lubuk hati yang paling dalam dan di kedalaman iman yang bercahaya di mana kita boleh bertanya pada segala suasana jiwa, gambaran fikiran dan bahkan pilihan selera.

Maka :
  1. Tutur kata kita adalah bahasa akhirat kita, menjauhi atau mendekati.
  2. Kerja-kerja dan kebanggaan prestasi kita adalah lorong-lorong akhirat kita, menjauhi atau mendekati.
  3. Kadar ketinggian ruhani kita adalah tambatan-tambatan akhirat kita, kuat atau lemahnya.
  4. Obsesi-obsesi kemanusiaan kita adalah ukiran yang diserlahkan di luar tentang akhirat kita, kukuh atau lemahnya.
  5. Jumlah terhitung dari kebajikan-kebajikan kita adalah benih-benih pengharapan akan penerimaan Allah sebagai kunci-kunci akhirat kita, diterima atau tidaknya.
Akhirat, sahabat abadi itu masih menyisakan kesempatan untuk kita setidak-tidaknya hingga saat ini.

Di sini, saat kita masih seperti ini. Jadi, cermin itu ada di sini :
  1. Bersama diri kita sendiri.
  2. Bersama kadar iman kita.
di tengah-tengah kadar pasang surutnya.

Sementara, segala dosa dan kesalahan kita adalah batuan curam yang menghambat perjumpaan dengan sahabat yang sejati iaitu akhirat yang dirindukan.

Segala yang hidup mempunyai petanda.

Begitu juga dengan akhirat, tempat segala kehidupan sebenar bersaksi, ada banyak petanda :
  1. Apakah ia bersama kita atau tidak.
  2. Apakah ia mendekat kepada kita atau menjauh.
Pada cermin jati diri itu ada cerita tentang akhirat yang kian menjauhi atau lebih mendekatkan.

Bila suatu hari kita terasa sangat sepi terhadap akhirat, mungkin itu tandanya kita mesti bertanya, adakah akhirat telah menjauhi kita?

Tuturkata kita adalah bahasa akhirat kita, samada menjauhi atau mendekati.

Kerja-kerja dan pencapaian prestasi kita adalah lorong-lorong akhirat kita, samada menjauhi atau mendekati.

Pada semua sela-sela kehidupan yang kita jalani, marilah kita bertanya kepada diri kita dengan sejujurnya, bagaimanakah keadaan akhirat kita?

Ya Allah, jadikanlah hati kami sentiasa terikat dengan akhirat kerana dialah kampung sebenar kami yang kami sentiasa berjalan menuju kepadanya. Limpahkanlah kesedaran ke dalam jiwa kami betapa setiap perkataan yang keluar dari mulut kami dan perbuatan yang lahir dari anggota tubuh badan kami akan dipertanggungjawabk an di akhirat nanti kerana kami memahami bahwa di sanalah setiap manusia dan makhluk yang lain akan mendapat hak yang adil terhadap ketidakadilan yang berlaku di dunia ini.

Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS

Nasihat Tonggak Agama

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,

Dari Tamim ad-Dari ra. bahwasanya Nabi saw bersabda :

“Agama itu adalah nasihat. Kita (para sahabat) bertanya, “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitabNya, bagi rasulNya, dan bagi para pemimpin kaum muslimin dan umat Islam.”

Rasulullah saw menjelaskan bahwa Islam dengan segala ajarannya adalah nasihat.

Dalam pengertian umum, perkataan nasihat merupakan sebuah perkataan yang ringkas namun penuh dengan isi, maksudnya ialah segala perkara yang baik.

Dalam bahasa Arab, tiada perkataan lain yang pengertiannya setara dengan kata nasihat.

Jika dikatakan, seseorang memberikan nasihat, maka maknanya adalah dengan sikap yang tulus, seseorang menginginkan kebaikan pada orang yang diberi nasihat.

Dari pengertian itu difahami bahwa orang yang memberi nasihat adalah orang yang menginginkan agar yang dinasihati berada dalam keadaan baik.

Kalimah, “Agama adalah Nasihat” maksudnya nasihat adalah tiang utama dan penyokong kepada pokok agama, sebagaimana sabda Rasulullah saw :

“Haji adalah Arafah”, maksudnya wukuf di Arafah adalah bahagian yang terpenting dalam ibadah haji.

Adapun Islam sebagai agama nasihat maknanya adalah agama yang menginginkan agar semua pihak dalam keadaan baik, maka diajarkannya sikap yang benar.

Kewujudan nasihat ini mempunyai berbagai variasi sesuai dengan matlamat dan tujuan nasihat, antara lain :

PERTAMA : NASIHAT BAGI ALLAH

Maksudnya :

a.       Beriman kepadaNya dengan benar sesuai dengan petunjuk di dalam Al-Qur’an mahupun As-Sunnah.
b.      Menjauhkan diri dari syirik dan sikap ingkar terhadap sifat-sifatNya.
c.       Memberikan kepada Allah sifat-sifat kesempurnaan dan segala keagungan.
d.      MensucikanNya dari segala sifat kekurangan.
e.       MentaatiNya.
f.       Menjauhkan diri dari perbuatan dosa.
g.      Mencintai dan membenci sesuatu semata-mata keranaNya.
h.      Berjihad menghadapi orang-orang kafir.
i.        Mengakui dan bersyukur atas segala nikmatNya.
j.        Berlaku ikhlas dalam segala urusan.
k.      Mengajak dan menganjurkan orang melakukan segala kebaikan.
l.        Bersikap lemah lembut kepada sesama manusia.

Imam Al Khathabi berkata :

“Secara prinsipnya, sifat-sifat baik tersebut, kebaikannya kembali kepada pelakunya sendiri kerana Allah tidak memerlukan kebaikan dari sesiapapun.”

Berkata Abu ‘Amru bin Ash-Sholah :

”Nasihat kepada Allah adalah mentauhidkanNya, mensifatiNya sesuai dengan sifat-sifatNya yang lengkap dan sempurna, meninggalkan perbuatan maksiat kepadaNya, melaksanakan ketaatan dan kecintaan kepadaNya dengan cara mengikhlashkan ibadah kepada-Nya, cinta dan benci keranaNya.”

KEDUA : NASIHAT BAGI KITABNYA

a.       Bersikap lemah lembut kepada sesama manusia.
b.      Mengagungkannya.
c.       Mencintai dan menghormati Al Qur’an dalam kedudukannya sebagai wahyu Allah.
d.      Mengakui bahwa Al Qur’ an itu tidak sama dengan perkataan manusia dan tidak pula dapat dibandingkan dengan perkataan sesiapapun.
e.       Membacanya.
f.       Mempelajarinya untuk memahami maknanya.
g.      Memikirkan isinya.
h.      Mengamalkan pesanan-pesanannya dengan sekuat tenaga.

Al Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, maka sudah sewajarnya jika ianya  mesti diamalkan.

Firman Allah swt :

“Al Qur’an adala kitab yang Kami turunkan kepadamu, supaya kamu dapat mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang.”

Imam Al-Khathabi berkata :

“Nasihat kepada kitabNya adalah kita mengimaninya dan melaksanakan apa-apa yang ada padanya.”

Berkata Imam Muhammad Ibn Nashir Al-Mawarzi :

”Sedangkan nasihat kepada kitab Allah adalah dengan mengagungkan dan mencintainya, kerana Al-Qur’an adalah kalamullah. Lalu, memiliki perhatian dan keinginan yang kuat untuk memahaminya, mempelajari dengan berdasarkan rasa cinta kepadanya, serius dan penuh kosentrasi disaat membacanya agar dapat memahami sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah swt. Selanjutnya ia dituntut untuk mengamalkan seluruh isi Al-Qur’an, berakhlak dengan akhlaknya dan beradab dengan adabnya setelah itu ia mesti menyebarluaskannya kepada manusia apa yang telah ia fahami”.

Untuk memahami Al-Qur’an dengan pemahaman yang benar mestilah dengan memahami metod / cara yang benar pula.

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam muqaddimah kitab tafsirnya menerangkan :

”Sebenar-benar metod tafsir adalah penafsiran Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, penafsiran Al-Qur’an dengan As-Sunnah, penafsiran Al-Qur’an dengan perkataan para sahabat dan penafsiran Al-Qur’an dengan perkataan para tabi’in.

KETIGA : NASIHAT BAGI RASULULLAH SAW

Ketika beliau masih hidup, nasihat ini dalam bentuk :

a.       Mengimani beliau.
b.      Mencintainya dengan sepenuh hati.
c.       Membantu perjuangan beliau dengan ikhlas.
d.      Mentaatinya baik dalam keadaan mudah mahupun susah.

Para sahabat telah mempraktikkan tindakan yang mencerminkan sikap nasihat kepada Rasulullah saw sehingga mereka layak menjadi contoh bagi kita dalam sikap ini.

Adapun sepeninggalan beliau saw, nasihat kepada Rasulullah tidak dapat kita lakukan seperti yang dilakukan oleh para sahabat dan oleh kerana itu untuk perkara-perkara yang tidak mungkin dilakukan lagi seperti berjuang bersama Rasulullah saw tentu tidak menjadi tuntutan lagi.

Yang menjadi tuntutan untuk dilakukan adalah :

a.       Mempelajari perilaku kehidupan (sirah) beliau dan juga sunnah-sunnahnya.
b.      Meneladaninya.
c.       Mempercayai kebenaran yang beliau ajarkan.
d.      Menjaga kemurnian sunnahnya.
e.       Mencontohi dan mengikuti akhlaknya yang mulia.

Allah swt berfirman :

"Sungguh pada diri Rasulullah telah ada teladan yang baik bagi kamu, bagi orang-orang yang mengharap (ridha) Allah dan (keuntungan) di hari akhirat dan banyak mengingati Allah.”  (QS Al-Ahzab : 21)

KEEMPAT : NASIHAT KEPADA PARA IMAM (PEMIMPIN)

Berkata Syaikh Muhammad Hayat As-Sindi :

”Yang dimaksudkan para pemimpin muslim adalah para penguasa kaum muslimin. Seorang muslim mestilah menerima, mendengar dan taat kepada para penguasa selama mana yang diperintahkan bukan perkara maksiat kerana tidak boleh taat kepada makhluk dalam hal kemaksiatan terhadap Allah.” 

Berpijak pada penjelasan tentang imam tersebut, maka usaha untuk mewujudkannya adalah dengan :

a.       Mentaati perintahnya yang tidak dalam maksiat kepada Allah.
b.      Membantu perjuangannya dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.
c.       Menyampaikan peringatan kepada mereka jika mereka melakukan pelanggaran atau penyimpangan.

Taat adalah hak pemimpin, akan tetapi ketaatan itu hanyalah pada sesuatu yang bukan maksiat kepada Allah dan RasulNya. Jika pemimpin memerintahkan kemaksiatan maka secara automatik perintah itu terbatal dan tidak perlu diikuti. Justeru dengan itu, sebagai bentuk nasihatnya yang paling utama adalah memberi peringatan kepada pemimpin.

KELIMA : NASIHAT KEPADA UMAT ISLAM PADA UMUMNYA

Bagi pemimpin, ia mesti :

a.       Berbuat adil dan amanah.
b.      Memikirkan kesejahteraan umat Islam.
c.       Berusaha sentiasa membimbing mereka ke arah jalan yang benar, jalan ketaatan kepada Allah dan RasulNya.

Sedangkan bagi peribadi mukmin :

a.       Hendaklah memelihara ukhuwwah, kerana pada hakikatnya mereka bersaudara.

Sebagaimana firman Allah swt :

“ Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara maka perbaikilah persaudaraan antara kamu.”  (QS Al-Hujurat :10)

Selain itu ia juga :

b.      Hendaklah saling mengasihi dan menyayangi.

Seperti sabda Rasulullah saw :

 “Perumpamaan orang-orang mukmin di dalam saling menyayangi, saling mengasihi seperti satu tubuh apabila ada satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh anggota akan ikut merasakan kepanasan dan tidak dapat tidur.”

Kemudian ia juga mesti :

c.       Sentiasa memelihara sikap tolong menolong dalam kebaikan dan mencegah terjadinya kemungkaran.

Sebagaimana firman Allah swt :

“Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.”

Ya Allah, berilah kekuatan kepada kami untuk kami mampu melaksanakan tugas nasihat menasihati yang merangkumi seluruh dimensi dalam agama ini kerana kami memahami bahwa Deen ini tidak akan tegak dengan kukuhnya melainkan berlakunya usaha nasihat menasihati yang menjadi tiang dan tonggak utama kepada agama.

Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS 

Dajjal, perosak akhir zaman

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,

Kita sekarang berada di akhir zaman dan hari kiamat itu sudah dekat di mana salah satu tanda kiamat adalah munculnya Dajjal.

Ada Dajjal yang sebenar sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits shahih dan ada pula anak buah Dajjal atau orang-orang yang memiliki cirri-ciri seperti Dajjal.

Kedua-duanya sentiasa menimbulkan :
a.       Fitnah.
b.      Kerosakan.
c.       Kesesatan.
Projek perosakan dan penyesatan mereka kadang-kadang begitu terang dan menjolok mata dan kadang-kadang dibungkus dengan berbagai macam alasan yang diterima akal.

Bagi umat Islam yang memahami Islam atau belajar tentang Islam, pasti mendengar berita tentang Dajjal kerana hadits yang membicarakan tentang Dajjal sangat banyak dan kebenaran beritanya sampai ke tingkat "mutawathir' (periwayatan hadits yang disampaikan oleh ramai orang dari satu generasi ke generasi berikutnya) manakala hadits ‘mutawathir’ dipastikan kebenarannya dan tidak ada yang mengingkarinya dari kalangan ulama'.

Datangnya Dajjal yang kemudiannya berhadapan dan dibunuh oleh Nabi Isa as merupakan salah satu tanda-tanda dari hari kiamat.
Bahkan Nabi Isa as bukan hanya membunuh Dajjal, tetapi juga :
  1. Menghancurkan salib.
  2. Membunuh babi.
  3. Memerangi orang-orang kafir.
Nabi Isa as pada ketika itu menjadi pemimpin yang adil dan mengikut syari'at Nabi Muhammad saw.
Berita tentang keluarnya Dajjal dan turunnya Nabi Isa as dari langit adalah aqidah yang mesti diyakini oleh umat Islam secara keseluruhan kerana ianya bersumber dari hadits shahih dari Rasulullah saw.

Begitu besarnya bahaya fitnah Dajjal sehingga Rasulullah saw memerintahkan kepada umatnya untuk sentiasa berdoa dalam setiap solat agar terbebas dari fitnah tersebut.

Beliau saw bersabda :

"Jika kamu membaca tasyahud, maka berlindunglah dari empat perkara, iaitu berkata : `Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari azab Jahannam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari buruknya fitnah Al-Masih Ad-Dajjaal.' " (HR Muslim)

MAKNA DAJJAL

Dajjal dari segi bahasa berasal dari perkataan `dajala', bererti berdusta dan menutup.

`Dajala haq bil batil'
ertinya menutupi atau mencampuradukkan yang hak dengan yang batil.
Disebut dajjal kerana menutupi kebenaran dengan kata-kata dustanya.

Dajjal bererti seorang yang sangat pendusta dan menutupi kebenaran sedangkan Dajjal yang disebutkan dalam hadits adalah satu makhluk khusus seperti manusia yang akan :
  1. Muncul di hari-hari menjelangnya kiamat.
  2. Memfitnah manusia.
  3. Mempunyai karakteristik khusus.
HADITS-HADITS TENTANG DAJJAL

Disebutkan dalam hadits-hadits Rasulullah saw :

"Selain Dajjal ada yang lebih aku takuti atasmu dari Dajjal. Jika Dajjal keluar dan aku berada di hadapan kamu, maka aku melawannya membela kamu. Tetapi jika ia keluar dan aku tidak di antara kamu, maka setiap orang membela diri sendiri. Allah akan melindungi setiap muslim. Dajjal adalah pemuda berambut kerinting, mata (kirinya) menonjol, seperti saya umpamakan dengan Abdul `Uzza bin Qathan. Siapa yang menjumpainya, maka bacalah awal surah Al-Kahfi. Dajjal akan keluar di antara jalan Syam dan Irak. Berjalan membuat kerosakan di kanan dan di kiri. Wahai hamba-hamba Allah, tetap teguhlah (pada ajaran Islam)." (HR Muslim)

"Setiap negeri pasti didatangi Dajjal, kecuali Makkah dan Madinah." (HR Muslim)

"Mengikuti Dajjal 70 ribu orang-orang Yahudi dari Asbahan yang memakai topi." (HR Muslim)

"Setiap Nabi pasti memperingatkan kaumnya dengan si buta pendusta. Ingatlah bahwa Dajjal adalah buta, dan Rabb kamu Azza wa Jalla tidak buta. Dajjal ditulis di antara kedua matanya k f r (kafir)." (Muttafaqun alaihi)

"Mahukah aku ceritakan berita tentang Dajjal, sesuatu yang pernah diceritakan setiap nabi pada kaumnya. Dajjal adalah buta, dia datang dengan sesuatu seperti syurga dan neraka. Apa yang dikatakan syurga adalah neraka." (Muttafaqun `alaihi)

"Dajjal akan muncul pada umatku, maka ia hidup selama 40 (saya tidak tahu apakah 40 hari, atau bulan atau tahun). Kemudian Allah mengutus Isa bin Maryam, ia seperti Urwah bin Mas'ud. Maka Isa as mencari Dajjal dan menghancurkannya. Kemudian Isa tinggal bersama manusia 7 tahun, tidak akan terjadi permusuhan di antara dua kelompok." (HR Muslim)

"Perang besar, pembukaan kota Konstantinopel dan keluarnya Dajjal (terjadi) dalam 7 bulan." (HR Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmizi dan Ibnu Majah)

CIRI-CIRI DAN KARAKTERISTIK DAJJAL

Banyak lagi hadits-hadits yang menjelaskan ciri-ciri dan karakteristik Dajjal yang akan datang di akhir zaman dan dari beberapa hadits di atas dapat disimpulkan tentang sifat dan karakteristik Dajjal adalah :
  1. Makhluk dari bangsa manusia keturunan Yahudi.
  2. Ciri khas fizikalnya : berambut keriting, mata kanannya buta, mata kirinya menonjol, di antara kedua matanya tertulis kafir.
  3. Sentiasa berdusta dan menipu manusia agar menjadi kafir dan menjadi pengikutnya.
  4. Aktiviti membuat kerosakan di bumi.
  5. Pengikut setianya orang-orang Yahudi dan orang-orang kafir.
  6. Sentiasa keliling dunia, kecuali Makkah dan Madinah.
  7. Datang membawa keajaiban yang dapat menyihir dan menipu manusia dengan harta, kekuasaan dan wanita.
  8. Dajjal akan berhadapan dan dibunuh oleh Nabi Isa as.
Namun, di samping Dajjal yang sebenarnya, Rasulullah saw juga mengingatkan umatnya akan bahaya orang-orang yang memiliki sifat Dajjal.

Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw bersabda :

"Tidak akan terjadi hari kiamat sampai munculnya Dajjal-Dajjal pendusta sekitar 30 orang, semuanya mengaku utusan Allah." (HR Muslim)

"Selain Dajjal ada yang lebih aku takuti atas umatku dari Dajjal, iaitu para pemimpin yang sesat." (HR Ahmad)

FITNAH DAJJAL

Dajjal hadir untuk membuat fitnah yang menyebabkan orang yang beriman menjadi sesat dan kafir.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits, di samping ada Dajjal yang sebenar, ada juga manusia-manusia yang mempunyai karakteristik seperti Dajjal. Oleh kerana itu umat Islam juga mesti berwaspada dengannya.

Mereka adalah para pemimpin yang sesat dan nabi-nabi palsu. Mereka sangat merbahaya kerana datang pada setiap tempat dan waktu sedangkan Dajjal akan datang hanya menjelang hari kiamat.

Maka para pemimpin yang sesat yang memiliki sifat-sifat Dajjal tingkatan bahayanya lebih kuat dari Dajjal yang sebenarnya. Namun kedua-duanya adalah fitnah yang mesti diambil perhatian oleh setiap muslim.

Para pemimpin di sepanjang masa sentiasa ada yang menjadi musuh para nabi dan para pendakwah yang mengajarkan kebenaran. Dari sejak Raja Namrud, Fira'un dan Abu Jahal hingga kepada pemimpin sesat setelah wafatnya Rasulullah saw. Mereka di antaranya pemimpin-pemimpin dunia yang :
  1. Membantai dan menghancurkan negeri muslim.
  2. Menimbulkan fitnah.
  3. Menebar kesesatan.
  4. Membuat kerosakan di dunia.
Fitnah Dajjal, samada yang sebenarnya ataupun para pemimpin yang memiliki sifat Dajjal adalah bahaya besar yang mesti dihadapi oleh umat Islam.

Fitnah Dajjal :
  1. Membuatkan umat Islam menjadi sesat dan kafir.
  2. Menjadikan umat Islam saling berbunuhan sesama sendiri.
  3. Memutarbelitkan fakta sehingga yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar, yang haram menjadi halal dan yang halal menjadi haram.
  4. Didukung dengan dana, media massa dan peraturan-peraturan yang memang telah sesat.
  5. Didukung oleh institusi antarabangsa dan negara-negara kuasa dunia.
Fitnah yang paling bahaya dari Dajjal adalah yang keluar dari mulutnya.
Fitnah ini didukung oleh media massa dan disebarkan ke seluruh penduduk dunia serta masuk ke rumah-rumah keluarga muslim dan menyesatkan mereka.

Dajjal (samada yang sebenarnya atau yang menyerupainya) sentiasa mengucapkan kata-kata yang membuatkan manusia sesat dari agama Allah.

Dajjal sentiasa mengeluarkan ungkapan sesat, batil dan kontroversial sehingga :
  1. Kebenaran menjadi kabur dan tidak jelas.
  2. Kebatilan seolah-olah indah dan menarik.
  3. Kebenaran sentiasa ditutup dan dibungkus dengan dusta.
  4. Syariat Islam dianggap kejam dan tidak berperikemanusiaan.
  5. Nilai-nilai sekular dianggap baik, adil dan paling sesuai untuk kehidupan di era moden.
  6. Nilai-nilai agama dijauhkan dan diasingkan dari kehidupan sosial dan kenegaraan.
  7. Bid'ah dianggap sunnah.
  8. Sunnah dianggap bid'ah.
  9. Umat Islam dicap sebagai fundamentalis, ekstrimis dan teroris.
  10. Orang bukan Islam dianggap berperikemanusiaan, baik dan demokratik.
APAKAH IBNU SHAYYAAD ITU ADALAH DAJJAL?

Disebutkan dalam sebuah hadits :

Dari Abdullah berkata, kami bersama Rasulullah saw, maka kami melewati anak-anak, di antaranya Ibnu Shayyaad. Anak-anak lari, sedangkan Ibnu Shayyaad tetap duduk. Seolah-olah Rasulullah saw tidak suka padanya. Rasulullah saw berkata padanya : "Apakah engkau bersaksi bahwa aku Rasulullah saw?" Ibnu Shayyaad berkata : "Tidak, tapi apakah engkau bersaksi bahwa aku Rasulullah saw" Berkata Umar, "Wahai Rasulullah saw, biarkanlah aku membunuhnya. " Rasulullah saw berkata : "Jika benar yang engkau lihat (adalah Dajjal), maka engkau tidak akan dapat membunuhnya. " (HR Muslim)

Rasulullah saw tidak memberi kepastian bahwa Ibnu Shayyaad adalah Dajjal yang dimaksudkan itu, walaupun demikian beliau juga membiarkan dan tidak menafikan ketika sebahagian sahabat bersumpah bahwa dia adalah Dajjal.

Perkara ini menyebabkan berlakunya perbezaan pendapat di antara para ulama, apakah Ibnu Shayyaad adalah Dajjal?

Memang ketika Rasulullah saw menyebutkan sifat-sifat Dajjal yang akan muncul menjelang hari kiamat, di antaranya bahwa Dajjal adalah kafir dari keturunan Yahudi, tidak akan memasuki Makkah dan Madinah dan tidak mempunyai anak sedangkan Ibnu Shayyaad mengaku muslim walaupun dari keturunan Yahudi. Dia lahir di Madinah, mempunyai orang tua dan mempunyai anak. Selain itu, Ibnu Shayyaad sempat berangkat menunaikan haji menuju Makkah bersama Abu Said Al-Khudri.

Ilmu secara pasti tentang Ibnu Shayyaad samada ia Dajjal atau bukan, hanyalah Allah yang tahu tetapi dari isyarat Rasulullah saw dan sifat-sifatnya, maka para ulama mengambil kesimpulan bahwa Ibnu Shayyaad adalah salah seorang yang memiliki sifat Dajjal.

Dia ahli sihir, dukun dan mengaku banyak tahu tentang masaalah ghaib sehingga ketika sebahagian sahabat bersumpah, di antaranya Umar bin Al Khattab bahwa Ibnu Shayyaad adalah Dajjal, Rasulullah saw tidak menafikannya. Wallahu A’lam.

CARA-CARA MENGHADAPI FITNAH DAJJAL

Untuk menghadapi fitnah Dajjal, maka umat Islam mesti berjihad melawan kebatilan.

Ulama' mesti menjelaskan kepada umat antara yang hak dengan yang batil agar mereka tidak menjadi bingung dan tidak tersesat.
Rasulullah saw bersabda :

"Sebaik-baik jihad adalah perkataan yang benar di hadapan penguasa yang zalim." (HR Ahmad)

Semua bentuk fitnah mesti dilawan oleh umat Islam seperti :
  1. Fitnah kemusyrikan.
  2. Fitnah merendah-rendahkan kehormatan Nabi saw.
  3. Fitnah pembunuhan.
  4. Fitnah pornografi.
  5. Fitnah merendah-rendahkan Islam dan umat Islam.
Manakala fitnah itu juga mesti dilawan dengan semua bentuk kekuatan yang dimiliki dan mampu dimiliki oleh umat Islam sehingga Islam menjadi ajaran yang unggul di muka bumi ini.

Allah swt berfirman :

"Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan." (QS Al-Anfal : 39)

Sedangkan cara yang praktikal yang mesti dilakukan oleh umat Islam iaitu sentiasa membaca Al-Qur'an dan menghafalkannya khususnya surah Al-Kahfi.

Rasulullah saw bersabda :

"Siapa yang hafal 10 ayat pertama surah Al-Kahfi, maka dia selamat dari Dajjal". (HR Muslim)

Ya Allah, selamatkanlah kami dan anak cucu kami dari fitnah Dajjal kerana ia merupakan fitnah yang paling besar yang akan dihadapi oleh manusia di akhir zaman. Tetapkanlah iman kami sehingga kami bertemuMu dalam keadaan tidak ada sedikitpun kesyirikan yang wujud di dalam hati kami.

Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS

kualiti seseorang aktivis dakwah

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,

Tarbiyah yang kita lalui sekarang ini seharusnya dapat meningkatkan kualiti seseorang aktivis dakwah.

Kita adalah pelaksana tarbiyah dan dalam masa yang sama kita juga merupakan sebahagian dari objek tarbiyah ummah.

Ukuran kualiti aktivis dakwah menjadi sangat relatif ketika dikaitkan dengan tuntutan orbit dakwah. Di orbit dakwah manapun kita berada, kita sentiasa diharapkan mampu untuk memikul tanggungjawab, samada tanggungjawab dalam masyarakat ataupun tanggungjawab organisasi.

‘Likulli marhalatin rijal’ (Setiap marhalah ada rijalnya)

Kita dituntut untuk melebihi orang biasa kerana kita telah meletakkan diri kita sebagai ‘Unsur Perubah.’

Perubah mestilah mempunyai nilai dan daya tarikan agar orang-orang di sekitarnya dapat :

  1. Dipengaruhi.
  2. Dirubah.

Itulah harapan Rasulullah saw kepada umatnya yang keadaannya ketika ini jauh dari harapan, yang diimpikan iaitu umat yang :

  1. Memiliki nilai akhlak yang tinggi.
  2. Memiliki daya tarikan ke arah kebaikan.
  3. Menjadi arus ke arah perubahan diri manusia.
Umat Islam yang berjumlah besar ini sudah tidak memiliki nilai, daya tarikan dan arus kuat sepertimana sabda Rasulullah saw yang mengibaratkan umat Islam di akhir zaman seperti buih. Keadaan ini disebabkan oleh keperibadian umat Islam yang tidak lagi berkualiti serta terkena penyakit ‘wahn’, iaitu :
  1. Cinta dunia.
  2. Takut mati.
Sepatutnya aktivis dakwah adalah orang-orang yang memiliki nilai tambah.
Semakin tinggi kualitinya, maka nilai positifnya semakin tinggi pula.’
Ini bererti ia akan menambah kuat arusnya terhadap masyarakat sekitarnya yang masih banyak nilai negatif sebagaimana yang kita belajar dari teori aliran elektrik.
Jadi dengan tingginya kualiti aktivis dakwah, mereka diharapkan dapat :
  1. Memberikan pencerahan nilai-nilai Islam.
  2. Menjadi arus Islam yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Mewarnai kehidupan masyarakat.
KUALITI SAHABAT RASULULLAH SAW
‘Wahai Nabi, Kobarkanlah semangat para mu’min untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu daripada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.” (QS Al-Anfal : 65)
Al Qur’an menggambarkan tingginya kualiti sahabat di mana aktivis yang dibentuk oleh Rasulullah saw berjumlah 20 orang sahabat boleh menyamai 200 orang musuh Islam.
Kualiti seperti ini adalah puncak kualiti sahabat yang pernah dilahirkan di zaman Rasulullah saw. Menjadi rahmat Allahlah bahwa kemudiannya Allah meringankan beban dan tanggungjawab umat Islam menjadi dua kali dari kekuatan musuh.
“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Anfal : 66)

Dengan keringanan ini bererti kualiti piawaian umat Islam adalah dua kali kualiti musuhnya.

Jika perkara ini menjadi acuan kita, maka seharusnya aktivis kita memiliki kualiti dua kali dari orang yang belum terbina dan dengan kerana itulah profil aktivis menjadi acuan kita dalam beramal dan memperbaiki diri dalam proses tarbiyah.

Jika profil tersebut telah kita miliki, maka kita dapat mengatakan bahwa aktivis tersebut adalah aktivis yang berkualiti. Dengan kualiti itu, maka ia dapat melaksanakan tugas dan kewajiban yang dibebankan kepadanya.

Di antara cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualiti aktivis dakwah adalah seperti berikut :
PERTAMA : MENINGKATKAN KESEDARAN BAHWA BERADA DALAM JALAN DAKWAH INI ADALAH NIKMAT ALLAH YANG MESTI DISYUKURI
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu kerana nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Al Imran : 103)
Kebersamaan dalam kerja dakwah adalah nikmat Allah yang mesti disyukuri dan ia boleh dilakukan dengan meningkatkan ubudiyah kepadaNya. Kualiti ubudiyah sangat tergantung kepada kualiti iman dan kefahaman.
Jika nikmat ini kita syukuri, maka dari hari ke hari kita akan bertanya dalam diri kita, apakah hari ini lebih baik dari hari sebelumnya atau tidak? Pertanyaan ini boleh menjadi motivasi diri untuk peningkatan.
Itulah yang sentiasa membakar semangat Ali bin Abi Talib yang selalu ingin harinya ini lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Bahkan kita mencatat ucapannya yang masyhur itu bahwa :
  1. Orang yang harinya lebih buruk dari hari sebelumnya termasuk orang yang celaka.
  2. Orang yang harinya sama dengan hari sebelumnya termasuk orang yang rugi.
  3. Orang yang beruntung adalah orang yang harinya ini lebih baik dari sebelumnya.
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “ Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), Maka Sesungguhnya azabKu sangat pedih.” (QS Ibrahim : 7)
Kesyukuran di atas nikmat berada dalam persaudaraan amal ini adalah dengan meningkatkan kefahaman Islam dan menjaganya agar tidak hilang.
KEDUA : MENUMBUHKAN DAN MENINGKATKAN SEMANGAT MENUNTUT ILMU
Ilmu menjadi faktor penting dalam meningkatkan nilai amal perbuatan.
Allah telah menegaskan bahwa tidak sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu.
“Apakah kamu (wahai orang musyrik) yang lebih beruntung ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “ Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS Az-Zumar : 9)
Orang yang berilmu adalah orang yang amalnya berkualiti. Ertinya, segala ubudiyahnya diperkuatkan dengan ilmu, pahalanya lebih besar dan lebih bernilai dibandingkan dengan orang yang tidak berilmu.
Dengan ilmu, amal perbuatan kita mampu terjaga agar tidak terkeluar dari tuntutan Ar Rasul. Kesesuaian amal dengan sunnah Rasul merupakan satu dari dua syarat diterimanya amal ibadah di sisi Allah Taala.
Semakin kita berilmu semakin kita dapat menjaga tingkatan kesesuaiannya dengan tuntutan Rasul dan semakin kita berilmu, kualiti dan nilai amal kita pun akan semakin tinggi di sisi Allah swt.
Bandingkan antara solat orang awam dengan solatnya orang yang berilmu yang memahami semua bacaan dan mentadabur bacaan solat! Pasti tingkatan kekhusu’annya akan juga berbeza.
Orang awam mungkin hanya dapat melaksanakan kewajiban dan berpahala kerana tidak melanggar perintah. Tapi orang yang berilmu, selain ia menunaikan kewajiban, ia juga mendapatkan ketenangan dan kedekatan kepada Allah Taala hasil dari penghayatannya terhadap bacaan solatnya.
Bukankah ini disebabkan oleh ilmu sehingga Imam Hasan Al Banna menjadikan ‘Al Fahmu’ sebagai rukun yang pertama dari rukun-rukun ba’iah yang sepuluh.

Jadi, kualiti aktivis dakwah akan ditentukan oleh salah satunya dengan kualiti ilmunya.

Lebih jauh lagi dalam perbahasan tentang kefahaman atau ilmu ini, Ustaz Musthafa Masyhur menegaskan bahwa penyimpangan dan kesalahan akibat kesilapan kefahaman dan kecetekan ilmu seseorang aktivis dakwah akan menyebabkan penyimpangan dalam gerakan dakwah yang sangat parah dibandingkan dengan kesalahan teknikal semata-mata yang dilakukan oleh aktivis dakwah akibat kelalaian atau kelemahan koordinasi dan kerjasama di medan.
KETIGA : BERTEMAN DENGAN ORANG-ORANG YANG SOLEH
Agama seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan pergaulannya.
Rasulullah saw menegaskan kepada kita bahwa jika kita ingin mengetahui kualiti keagamaan seseorang, maka lihatlah siapa yang bergaul bersamanya.
Jika teman-temannya adalah orang yang baik, maka dipastikan bahwa ia juga baik, tetapi jika didapati teman pergaulannya adalah orang yang tidak baik, maka kemungkinan besar dia juga tidak baik.
Ketika orbit dakwah membesar dan bertambah luas cakupannya, maka lingkungan pergaulan aktivis dakwah semakin terbuka dan luas. Hasil dari keterbukaan pergaulan ini, sedikit banyak ianya akan mempengaruhi ‘daya lindung’ aktivis.
Melihat perkembangan ini, peningkatan kualiti aktivis dakwah menjadi sesuatu yang sangat penting. Dalam keadaan ini, sebaiknya seseorang aktivis dakwah perlu meningkatkan jalinan silaturahim dengan aktivis dakwah lainnya secara berkala disebabkan mungkin kerana kesibukan kerja dan tugas dakwah menjadikan mereka jarang bertemu dan bersilaturahim.
Itulah yang dilakukan oleh Abdullah bin Rawahah ra ketika mengajak Abu Darda’ ra serta berkata :
“Ta’ala nu’min assaa’ah” (Marilah kita beriman (perbaharui keimanan) sebentar).
Begitu juga sebelumnya, Mu’az bin Jabal ra berkata kepada saudaranya sambil memberi nasihat.
“ Duduklah sebentar, mari kita beriman (perbaharui keimanan)”.
Ya Allah, permudahkanlah urusan kami sehingga kami mampu mempertingkatakan kualiti akhlak, daya tarikan serta menjadi arus kuat yang akan memberi pengaruh kepada manusia-manusia lain di sekeliling kami. Perkuatkanlah ia dengan rasa syukur kepadaMu, peningkatan ilmu dan kefahaman serta pergaulan yang baik dengan orang-orang soleh pilihanMu.
Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS