Thursday, January 13, 2011

Menuju Akhirat Yang Pasti

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,

Akhirat adalah sebuah kampung tempat segala-galanya berkesudahan mengakhiri jalan panjangnya.

Rumah penghabisan dan tempat segala hiruk pikuk dunia ditimbang lalu ditunaikan hak orang-orang yang mempunyai hak serta diambilkan bayaran kekurangan orang-orang yang berbuat curang.

Nun di sana kita akan bersua seperti air sungai yang mengalir berliku kesana ke mari dan bermuara juga pada akhirnya.

Namun, akhirat bukan sekadar tempat berkesudahan yang terpaksa atau tempat pembuangan segala isi alam semesta.

Ya, pada ketetapan Allah, taqdir dan kuasaNya, tidak ada yang boleh lari dari akhirat.

Bagi orang-orang yang beriman, akhirat adalah juga tempat menggantungkan :
  1. Cita-cita.
  2. Harapan.
  3. Puncak kebahagiaan abadi.
Lain pula bagi orang-orang yang bergelimang dengan dosa, bergaul dengan syaitan dan hawa nafsu, akhirat akan menjadi tempat penghempas yang menyakitkan.

Seperti longgokan sampah yang tidak mempunyai kekuatan dibawa arus, mengalir begitu deras bersama air yang mengalir. Lalu kemudiannya terhenti seketika, menebus segala kotorannya dengan cara yang sangat mengerikan.

Ia mungkin dahulu mengatakan seperti yang diabadikan oleh Al-Qur'an :

"Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), `Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia sahaja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan. '" (QS Al-An'am : 29).

Maka manusia sampah mempunyai pengakhirannya sendiri di kampung akhirat sana sebagai pengakhiran sampah atau bahkan lebih hina dari sampah.

Suasananya sangat mengharukan seperti yang digambarkan di dalam Al-Qur'an :

"Dan, jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, `Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman,' (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan) ." (QS Al-An'am : 27)

Akhirat :
  1. Jauh dan dekatnya sangat bergantung kepada cara kita mengejarnya.
  2. Lama dan sebentarnya bergantung kepada bagaimana kita berjalan menuju ke sana.
Sebenarnya kita bertaruh untuk sesuatu yang sangat pasti. Akhirat yang sering dilupakan sepatutnya hadir di setiap sela kehidupan kita, meskipun terasa asing dan tidak tergambarkan.
  1. Ia dekat tetapi sering dianggap jauh.
  2. Ia tetap nyata, walaupun sering dirasakan sebatas cerita.
Umpama pemangsa bertaring, ia boleh menyergap secara tiba tiba, tapi betapa ramai orang yang tidak pernah menyedarinya.

Akhirat umpama sahabat sejiwa.
  1. Ia akan terus melambai jika kita masih jujur padanya.
  2. Ia akan merindukan kita bila kita juga merindukannya.
  3. Ia akan menyiapkan sambutan untuk kita bila kita masih setia berjalan menuju kepadanya.
Kesetiaan seorang Mukmin yang mencari cinta sejati iaitu cinta yang :
  1. Menghidupkan.
  2. Memastikan harapan.
Kesetiaan seorang Mukmin yang mengerti bahwa DUNIA hanyalah teman sementara, kawan yang menawarkan :
  1. Mawar tapi juga durinya.
  2. Madu tapi juga racunnya.
  3. Manis tapi juga pahitnya.
Maka, di tengah-tengah kehidupan yang sangat penat dan melelahkan ini, bertanya tentang kampung akhirat yang abadi adalah suatu kemestian.

Di tengah-tengah gemerlapan kehidupan yang memacu peradaban kebendaannya, bertanya tentang khabar sahabat sejati adalah suatu kemestian :

Apa khabar akhirat?

Namun, ia akan lebih berhak bertanya :
  1. Apa khabar kita sendiri?
  2. Masihkah kita menjadi pengejar akhirat?
Di sini segalanya terasa sangat adil.
  1. Bila kita menjauhinya, akhirat pun akan menjauhi kita.
  2. Bila kita menghindarinya, ia juga akan menghindari kita.
  3. Bila kita mendekatinya, akhirat pun akan mendekati kita.
Kita mesti bersyukur dari sisi yang lain betapa dekat atau jauhnya akhirat boleh kita rasa di lubuk hati yang paling dalam dan di kedalaman iman yang bercahaya di mana kita boleh bertanya pada segala suasana jiwa, gambaran fikiran dan bahkan pilihan selera.

Maka :
  1. Tutur kata kita adalah bahasa akhirat kita, menjauhi atau mendekati.
  2. Kerja-kerja dan kebanggaan prestasi kita adalah lorong-lorong akhirat kita, menjauhi atau mendekati.
  3. Kadar ketinggian ruhani kita adalah tambatan-tambatan akhirat kita, kuat atau lemahnya.
  4. Obsesi-obsesi kemanusiaan kita adalah ukiran yang diserlahkan di luar tentang akhirat kita, kukuh atau lemahnya.
  5. Jumlah terhitung dari kebajikan-kebajikan kita adalah benih-benih pengharapan akan penerimaan Allah sebagai kunci-kunci akhirat kita, diterima atau tidaknya.
Akhirat, sahabat abadi itu masih menyisakan kesempatan untuk kita setidak-tidaknya hingga saat ini.

Di sini, saat kita masih seperti ini. Jadi, cermin itu ada di sini :
  1. Bersama diri kita sendiri.
  2. Bersama kadar iman kita.
di tengah-tengah kadar pasang surutnya.

Sementara, segala dosa dan kesalahan kita adalah batuan curam yang menghambat perjumpaan dengan sahabat yang sejati iaitu akhirat yang dirindukan.

Segala yang hidup mempunyai petanda.

Begitu juga dengan akhirat, tempat segala kehidupan sebenar bersaksi, ada banyak petanda :
  1. Apakah ia bersama kita atau tidak.
  2. Apakah ia mendekat kepada kita atau menjauh.
Pada cermin jati diri itu ada cerita tentang akhirat yang kian menjauhi atau lebih mendekatkan.

Bila suatu hari kita terasa sangat sepi terhadap akhirat, mungkin itu tandanya kita mesti bertanya, adakah akhirat telah menjauhi kita?

Tuturkata kita adalah bahasa akhirat kita, samada menjauhi atau mendekati.

Kerja-kerja dan pencapaian prestasi kita adalah lorong-lorong akhirat kita, samada menjauhi atau mendekati.

Pada semua sela-sela kehidupan yang kita jalani, marilah kita bertanya kepada diri kita dengan sejujurnya, bagaimanakah keadaan akhirat kita?

Ya Allah, jadikanlah hati kami sentiasa terikat dengan akhirat kerana dialah kampung sebenar kami yang kami sentiasa berjalan menuju kepadanya. Limpahkanlah kesedaran ke dalam jiwa kami betapa setiap perkataan yang keluar dari mulut kami dan perbuatan yang lahir dari anggota tubuh badan kami akan dipertanggungjawabk an di akhirat nanti kerana kami memahami bahwa di sanalah setiap manusia dan makhluk yang lain akan mendapat hak yang adil terhadap ketidakadilan yang berlaku di dunia ini.

Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS

Nasihat Tonggak Agama

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,

Dari Tamim ad-Dari ra. bahwasanya Nabi saw bersabda :

“Agama itu adalah nasihat. Kita (para sahabat) bertanya, “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitabNya, bagi rasulNya, dan bagi para pemimpin kaum muslimin dan umat Islam.”

Rasulullah saw menjelaskan bahwa Islam dengan segala ajarannya adalah nasihat.

Dalam pengertian umum, perkataan nasihat merupakan sebuah perkataan yang ringkas namun penuh dengan isi, maksudnya ialah segala perkara yang baik.

Dalam bahasa Arab, tiada perkataan lain yang pengertiannya setara dengan kata nasihat.

Jika dikatakan, seseorang memberikan nasihat, maka maknanya adalah dengan sikap yang tulus, seseorang menginginkan kebaikan pada orang yang diberi nasihat.

Dari pengertian itu difahami bahwa orang yang memberi nasihat adalah orang yang menginginkan agar yang dinasihati berada dalam keadaan baik.

Kalimah, “Agama adalah Nasihat” maksudnya nasihat adalah tiang utama dan penyokong kepada pokok agama, sebagaimana sabda Rasulullah saw :

“Haji adalah Arafah”, maksudnya wukuf di Arafah adalah bahagian yang terpenting dalam ibadah haji.

Adapun Islam sebagai agama nasihat maknanya adalah agama yang menginginkan agar semua pihak dalam keadaan baik, maka diajarkannya sikap yang benar.

Kewujudan nasihat ini mempunyai berbagai variasi sesuai dengan matlamat dan tujuan nasihat, antara lain :

PERTAMA : NASIHAT BAGI ALLAH

Maksudnya :

a.       Beriman kepadaNya dengan benar sesuai dengan petunjuk di dalam Al-Qur’an mahupun As-Sunnah.
b.      Menjauhkan diri dari syirik dan sikap ingkar terhadap sifat-sifatNya.
c.       Memberikan kepada Allah sifat-sifat kesempurnaan dan segala keagungan.
d.      MensucikanNya dari segala sifat kekurangan.
e.       MentaatiNya.
f.       Menjauhkan diri dari perbuatan dosa.
g.      Mencintai dan membenci sesuatu semata-mata keranaNya.
h.      Berjihad menghadapi orang-orang kafir.
i.        Mengakui dan bersyukur atas segala nikmatNya.
j.        Berlaku ikhlas dalam segala urusan.
k.      Mengajak dan menganjurkan orang melakukan segala kebaikan.
l.        Bersikap lemah lembut kepada sesama manusia.

Imam Al Khathabi berkata :

“Secara prinsipnya, sifat-sifat baik tersebut, kebaikannya kembali kepada pelakunya sendiri kerana Allah tidak memerlukan kebaikan dari sesiapapun.”

Berkata Abu ‘Amru bin Ash-Sholah :

”Nasihat kepada Allah adalah mentauhidkanNya, mensifatiNya sesuai dengan sifat-sifatNya yang lengkap dan sempurna, meninggalkan perbuatan maksiat kepadaNya, melaksanakan ketaatan dan kecintaan kepadaNya dengan cara mengikhlashkan ibadah kepada-Nya, cinta dan benci keranaNya.”

KEDUA : NASIHAT BAGI KITABNYA

a.       Bersikap lemah lembut kepada sesama manusia.
b.      Mengagungkannya.
c.       Mencintai dan menghormati Al Qur’an dalam kedudukannya sebagai wahyu Allah.
d.      Mengakui bahwa Al Qur’ an itu tidak sama dengan perkataan manusia dan tidak pula dapat dibandingkan dengan perkataan sesiapapun.
e.       Membacanya.
f.       Mempelajarinya untuk memahami maknanya.
g.      Memikirkan isinya.
h.      Mengamalkan pesanan-pesanannya dengan sekuat tenaga.

Al Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, maka sudah sewajarnya jika ianya  mesti diamalkan.

Firman Allah swt :

“Al Qur’an adala kitab yang Kami turunkan kepadamu, supaya kamu dapat mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang.”

Imam Al-Khathabi berkata :

“Nasihat kepada kitabNya adalah kita mengimaninya dan melaksanakan apa-apa yang ada padanya.”

Berkata Imam Muhammad Ibn Nashir Al-Mawarzi :

”Sedangkan nasihat kepada kitab Allah adalah dengan mengagungkan dan mencintainya, kerana Al-Qur’an adalah kalamullah. Lalu, memiliki perhatian dan keinginan yang kuat untuk memahaminya, mempelajari dengan berdasarkan rasa cinta kepadanya, serius dan penuh kosentrasi disaat membacanya agar dapat memahami sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah swt. Selanjutnya ia dituntut untuk mengamalkan seluruh isi Al-Qur’an, berakhlak dengan akhlaknya dan beradab dengan adabnya setelah itu ia mesti menyebarluaskannya kepada manusia apa yang telah ia fahami”.

Untuk memahami Al-Qur’an dengan pemahaman yang benar mestilah dengan memahami metod / cara yang benar pula.

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam muqaddimah kitab tafsirnya menerangkan :

”Sebenar-benar metod tafsir adalah penafsiran Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, penafsiran Al-Qur’an dengan As-Sunnah, penafsiran Al-Qur’an dengan perkataan para sahabat dan penafsiran Al-Qur’an dengan perkataan para tabi’in.

KETIGA : NASIHAT BAGI RASULULLAH SAW

Ketika beliau masih hidup, nasihat ini dalam bentuk :

a.       Mengimani beliau.
b.      Mencintainya dengan sepenuh hati.
c.       Membantu perjuangan beliau dengan ikhlas.
d.      Mentaatinya baik dalam keadaan mudah mahupun susah.

Para sahabat telah mempraktikkan tindakan yang mencerminkan sikap nasihat kepada Rasulullah saw sehingga mereka layak menjadi contoh bagi kita dalam sikap ini.

Adapun sepeninggalan beliau saw, nasihat kepada Rasulullah tidak dapat kita lakukan seperti yang dilakukan oleh para sahabat dan oleh kerana itu untuk perkara-perkara yang tidak mungkin dilakukan lagi seperti berjuang bersama Rasulullah saw tentu tidak menjadi tuntutan lagi.

Yang menjadi tuntutan untuk dilakukan adalah :

a.       Mempelajari perilaku kehidupan (sirah) beliau dan juga sunnah-sunnahnya.
b.      Meneladaninya.
c.       Mempercayai kebenaran yang beliau ajarkan.
d.      Menjaga kemurnian sunnahnya.
e.       Mencontohi dan mengikuti akhlaknya yang mulia.

Allah swt berfirman :

"Sungguh pada diri Rasulullah telah ada teladan yang baik bagi kamu, bagi orang-orang yang mengharap (ridha) Allah dan (keuntungan) di hari akhirat dan banyak mengingati Allah.”  (QS Al-Ahzab : 21)

KEEMPAT : NASIHAT KEPADA PARA IMAM (PEMIMPIN)

Berkata Syaikh Muhammad Hayat As-Sindi :

”Yang dimaksudkan para pemimpin muslim adalah para penguasa kaum muslimin. Seorang muslim mestilah menerima, mendengar dan taat kepada para penguasa selama mana yang diperintahkan bukan perkara maksiat kerana tidak boleh taat kepada makhluk dalam hal kemaksiatan terhadap Allah.” 

Berpijak pada penjelasan tentang imam tersebut, maka usaha untuk mewujudkannya adalah dengan :

a.       Mentaati perintahnya yang tidak dalam maksiat kepada Allah.
b.      Membantu perjuangannya dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.
c.       Menyampaikan peringatan kepada mereka jika mereka melakukan pelanggaran atau penyimpangan.

Taat adalah hak pemimpin, akan tetapi ketaatan itu hanyalah pada sesuatu yang bukan maksiat kepada Allah dan RasulNya. Jika pemimpin memerintahkan kemaksiatan maka secara automatik perintah itu terbatal dan tidak perlu diikuti. Justeru dengan itu, sebagai bentuk nasihatnya yang paling utama adalah memberi peringatan kepada pemimpin.

KELIMA : NASIHAT KEPADA UMAT ISLAM PADA UMUMNYA

Bagi pemimpin, ia mesti :

a.       Berbuat adil dan amanah.
b.      Memikirkan kesejahteraan umat Islam.
c.       Berusaha sentiasa membimbing mereka ke arah jalan yang benar, jalan ketaatan kepada Allah dan RasulNya.

Sedangkan bagi peribadi mukmin :

a.       Hendaklah memelihara ukhuwwah, kerana pada hakikatnya mereka bersaudara.

Sebagaimana firman Allah swt :

“ Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara maka perbaikilah persaudaraan antara kamu.”  (QS Al-Hujurat :10)

Selain itu ia juga :

b.      Hendaklah saling mengasihi dan menyayangi.

Seperti sabda Rasulullah saw :

 “Perumpamaan orang-orang mukmin di dalam saling menyayangi, saling mengasihi seperti satu tubuh apabila ada satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh anggota akan ikut merasakan kepanasan dan tidak dapat tidur.”

Kemudian ia juga mesti :

c.       Sentiasa memelihara sikap tolong menolong dalam kebaikan dan mencegah terjadinya kemungkaran.

Sebagaimana firman Allah swt :

“Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.”

Ya Allah, berilah kekuatan kepada kami untuk kami mampu melaksanakan tugas nasihat menasihati yang merangkumi seluruh dimensi dalam agama ini kerana kami memahami bahwa Deen ini tidak akan tegak dengan kukuhnya melainkan berlakunya usaha nasihat menasihati yang menjadi tiang dan tonggak utama kepada agama.

Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS 

Dajjal, perosak akhir zaman

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,

Kita sekarang berada di akhir zaman dan hari kiamat itu sudah dekat di mana salah satu tanda kiamat adalah munculnya Dajjal.

Ada Dajjal yang sebenar sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits shahih dan ada pula anak buah Dajjal atau orang-orang yang memiliki cirri-ciri seperti Dajjal.

Kedua-duanya sentiasa menimbulkan :
a.       Fitnah.
b.      Kerosakan.
c.       Kesesatan.
Projek perosakan dan penyesatan mereka kadang-kadang begitu terang dan menjolok mata dan kadang-kadang dibungkus dengan berbagai macam alasan yang diterima akal.

Bagi umat Islam yang memahami Islam atau belajar tentang Islam, pasti mendengar berita tentang Dajjal kerana hadits yang membicarakan tentang Dajjal sangat banyak dan kebenaran beritanya sampai ke tingkat "mutawathir' (periwayatan hadits yang disampaikan oleh ramai orang dari satu generasi ke generasi berikutnya) manakala hadits ‘mutawathir’ dipastikan kebenarannya dan tidak ada yang mengingkarinya dari kalangan ulama'.

Datangnya Dajjal yang kemudiannya berhadapan dan dibunuh oleh Nabi Isa as merupakan salah satu tanda-tanda dari hari kiamat.
Bahkan Nabi Isa as bukan hanya membunuh Dajjal, tetapi juga :
  1. Menghancurkan salib.
  2. Membunuh babi.
  3. Memerangi orang-orang kafir.
Nabi Isa as pada ketika itu menjadi pemimpin yang adil dan mengikut syari'at Nabi Muhammad saw.
Berita tentang keluarnya Dajjal dan turunnya Nabi Isa as dari langit adalah aqidah yang mesti diyakini oleh umat Islam secara keseluruhan kerana ianya bersumber dari hadits shahih dari Rasulullah saw.

Begitu besarnya bahaya fitnah Dajjal sehingga Rasulullah saw memerintahkan kepada umatnya untuk sentiasa berdoa dalam setiap solat agar terbebas dari fitnah tersebut.

Beliau saw bersabda :

"Jika kamu membaca tasyahud, maka berlindunglah dari empat perkara, iaitu berkata : `Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari azab Jahannam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari buruknya fitnah Al-Masih Ad-Dajjaal.' " (HR Muslim)

MAKNA DAJJAL

Dajjal dari segi bahasa berasal dari perkataan `dajala', bererti berdusta dan menutup.

`Dajala haq bil batil'
ertinya menutupi atau mencampuradukkan yang hak dengan yang batil.
Disebut dajjal kerana menutupi kebenaran dengan kata-kata dustanya.

Dajjal bererti seorang yang sangat pendusta dan menutupi kebenaran sedangkan Dajjal yang disebutkan dalam hadits adalah satu makhluk khusus seperti manusia yang akan :
  1. Muncul di hari-hari menjelangnya kiamat.
  2. Memfitnah manusia.
  3. Mempunyai karakteristik khusus.
HADITS-HADITS TENTANG DAJJAL

Disebutkan dalam hadits-hadits Rasulullah saw :

"Selain Dajjal ada yang lebih aku takuti atasmu dari Dajjal. Jika Dajjal keluar dan aku berada di hadapan kamu, maka aku melawannya membela kamu. Tetapi jika ia keluar dan aku tidak di antara kamu, maka setiap orang membela diri sendiri. Allah akan melindungi setiap muslim. Dajjal adalah pemuda berambut kerinting, mata (kirinya) menonjol, seperti saya umpamakan dengan Abdul `Uzza bin Qathan. Siapa yang menjumpainya, maka bacalah awal surah Al-Kahfi. Dajjal akan keluar di antara jalan Syam dan Irak. Berjalan membuat kerosakan di kanan dan di kiri. Wahai hamba-hamba Allah, tetap teguhlah (pada ajaran Islam)." (HR Muslim)

"Setiap negeri pasti didatangi Dajjal, kecuali Makkah dan Madinah." (HR Muslim)

"Mengikuti Dajjal 70 ribu orang-orang Yahudi dari Asbahan yang memakai topi." (HR Muslim)

"Setiap Nabi pasti memperingatkan kaumnya dengan si buta pendusta. Ingatlah bahwa Dajjal adalah buta, dan Rabb kamu Azza wa Jalla tidak buta. Dajjal ditulis di antara kedua matanya k f r (kafir)." (Muttafaqun alaihi)

"Mahukah aku ceritakan berita tentang Dajjal, sesuatu yang pernah diceritakan setiap nabi pada kaumnya. Dajjal adalah buta, dia datang dengan sesuatu seperti syurga dan neraka. Apa yang dikatakan syurga adalah neraka." (Muttafaqun `alaihi)

"Dajjal akan muncul pada umatku, maka ia hidup selama 40 (saya tidak tahu apakah 40 hari, atau bulan atau tahun). Kemudian Allah mengutus Isa bin Maryam, ia seperti Urwah bin Mas'ud. Maka Isa as mencari Dajjal dan menghancurkannya. Kemudian Isa tinggal bersama manusia 7 tahun, tidak akan terjadi permusuhan di antara dua kelompok." (HR Muslim)

"Perang besar, pembukaan kota Konstantinopel dan keluarnya Dajjal (terjadi) dalam 7 bulan." (HR Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmizi dan Ibnu Majah)

CIRI-CIRI DAN KARAKTERISTIK DAJJAL

Banyak lagi hadits-hadits yang menjelaskan ciri-ciri dan karakteristik Dajjal yang akan datang di akhir zaman dan dari beberapa hadits di atas dapat disimpulkan tentang sifat dan karakteristik Dajjal adalah :
  1. Makhluk dari bangsa manusia keturunan Yahudi.
  2. Ciri khas fizikalnya : berambut keriting, mata kanannya buta, mata kirinya menonjol, di antara kedua matanya tertulis kafir.
  3. Sentiasa berdusta dan menipu manusia agar menjadi kafir dan menjadi pengikutnya.
  4. Aktiviti membuat kerosakan di bumi.
  5. Pengikut setianya orang-orang Yahudi dan orang-orang kafir.
  6. Sentiasa keliling dunia, kecuali Makkah dan Madinah.
  7. Datang membawa keajaiban yang dapat menyihir dan menipu manusia dengan harta, kekuasaan dan wanita.
  8. Dajjal akan berhadapan dan dibunuh oleh Nabi Isa as.
Namun, di samping Dajjal yang sebenarnya, Rasulullah saw juga mengingatkan umatnya akan bahaya orang-orang yang memiliki sifat Dajjal.

Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw bersabda :

"Tidak akan terjadi hari kiamat sampai munculnya Dajjal-Dajjal pendusta sekitar 30 orang, semuanya mengaku utusan Allah." (HR Muslim)

"Selain Dajjal ada yang lebih aku takuti atas umatku dari Dajjal, iaitu para pemimpin yang sesat." (HR Ahmad)

FITNAH DAJJAL

Dajjal hadir untuk membuat fitnah yang menyebabkan orang yang beriman menjadi sesat dan kafir.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits, di samping ada Dajjal yang sebenar, ada juga manusia-manusia yang mempunyai karakteristik seperti Dajjal. Oleh kerana itu umat Islam juga mesti berwaspada dengannya.

Mereka adalah para pemimpin yang sesat dan nabi-nabi palsu. Mereka sangat merbahaya kerana datang pada setiap tempat dan waktu sedangkan Dajjal akan datang hanya menjelang hari kiamat.

Maka para pemimpin yang sesat yang memiliki sifat-sifat Dajjal tingkatan bahayanya lebih kuat dari Dajjal yang sebenarnya. Namun kedua-duanya adalah fitnah yang mesti diambil perhatian oleh setiap muslim.

Para pemimpin di sepanjang masa sentiasa ada yang menjadi musuh para nabi dan para pendakwah yang mengajarkan kebenaran. Dari sejak Raja Namrud, Fira'un dan Abu Jahal hingga kepada pemimpin sesat setelah wafatnya Rasulullah saw. Mereka di antaranya pemimpin-pemimpin dunia yang :
  1. Membantai dan menghancurkan negeri muslim.
  2. Menimbulkan fitnah.
  3. Menebar kesesatan.
  4. Membuat kerosakan di dunia.
Fitnah Dajjal, samada yang sebenarnya ataupun para pemimpin yang memiliki sifat Dajjal adalah bahaya besar yang mesti dihadapi oleh umat Islam.

Fitnah Dajjal :
  1. Membuatkan umat Islam menjadi sesat dan kafir.
  2. Menjadikan umat Islam saling berbunuhan sesama sendiri.
  3. Memutarbelitkan fakta sehingga yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar, yang haram menjadi halal dan yang halal menjadi haram.
  4. Didukung dengan dana, media massa dan peraturan-peraturan yang memang telah sesat.
  5. Didukung oleh institusi antarabangsa dan negara-negara kuasa dunia.
Fitnah yang paling bahaya dari Dajjal adalah yang keluar dari mulutnya.
Fitnah ini didukung oleh media massa dan disebarkan ke seluruh penduduk dunia serta masuk ke rumah-rumah keluarga muslim dan menyesatkan mereka.

Dajjal (samada yang sebenarnya atau yang menyerupainya) sentiasa mengucapkan kata-kata yang membuatkan manusia sesat dari agama Allah.

Dajjal sentiasa mengeluarkan ungkapan sesat, batil dan kontroversial sehingga :
  1. Kebenaran menjadi kabur dan tidak jelas.
  2. Kebatilan seolah-olah indah dan menarik.
  3. Kebenaran sentiasa ditutup dan dibungkus dengan dusta.
  4. Syariat Islam dianggap kejam dan tidak berperikemanusiaan.
  5. Nilai-nilai sekular dianggap baik, adil dan paling sesuai untuk kehidupan di era moden.
  6. Nilai-nilai agama dijauhkan dan diasingkan dari kehidupan sosial dan kenegaraan.
  7. Bid'ah dianggap sunnah.
  8. Sunnah dianggap bid'ah.
  9. Umat Islam dicap sebagai fundamentalis, ekstrimis dan teroris.
  10. Orang bukan Islam dianggap berperikemanusiaan, baik dan demokratik.
APAKAH IBNU SHAYYAAD ITU ADALAH DAJJAL?

Disebutkan dalam sebuah hadits :

Dari Abdullah berkata, kami bersama Rasulullah saw, maka kami melewati anak-anak, di antaranya Ibnu Shayyaad. Anak-anak lari, sedangkan Ibnu Shayyaad tetap duduk. Seolah-olah Rasulullah saw tidak suka padanya. Rasulullah saw berkata padanya : "Apakah engkau bersaksi bahwa aku Rasulullah saw?" Ibnu Shayyaad berkata : "Tidak, tapi apakah engkau bersaksi bahwa aku Rasulullah saw" Berkata Umar, "Wahai Rasulullah saw, biarkanlah aku membunuhnya. " Rasulullah saw berkata : "Jika benar yang engkau lihat (adalah Dajjal), maka engkau tidak akan dapat membunuhnya. " (HR Muslim)

Rasulullah saw tidak memberi kepastian bahwa Ibnu Shayyaad adalah Dajjal yang dimaksudkan itu, walaupun demikian beliau juga membiarkan dan tidak menafikan ketika sebahagian sahabat bersumpah bahwa dia adalah Dajjal.

Perkara ini menyebabkan berlakunya perbezaan pendapat di antara para ulama, apakah Ibnu Shayyaad adalah Dajjal?

Memang ketika Rasulullah saw menyebutkan sifat-sifat Dajjal yang akan muncul menjelang hari kiamat, di antaranya bahwa Dajjal adalah kafir dari keturunan Yahudi, tidak akan memasuki Makkah dan Madinah dan tidak mempunyai anak sedangkan Ibnu Shayyaad mengaku muslim walaupun dari keturunan Yahudi. Dia lahir di Madinah, mempunyai orang tua dan mempunyai anak. Selain itu, Ibnu Shayyaad sempat berangkat menunaikan haji menuju Makkah bersama Abu Said Al-Khudri.

Ilmu secara pasti tentang Ibnu Shayyaad samada ia Dajjal atau bukan, hanyalah Allah yang tahu tetapi dari isyarat Rasulullah saw dan sifat-sifatnya, maka para ulama mengambil kesimpulan bahwa Ibnu Shayyaad adalah salah seorang yang memiliki sifat Dajjal.

Dia ahli sihir, dukun dan mengaku banyak tahu tentang masaalah ghaib sehingga ketika sebahagian sahabat bersumpah, di antaranya Umar bin Al Khattab bahwa Ibnu Shayyaad adalah Dajjal, Rasulullah saw tidak menafikannya. Wallahu A’lam.

CARA-CARA MENGHADAPI FITNAH DAJJAL

Untuk menghadapi fitnah Dajjal, maka umat Islam mesti berjihad melawan kebatilan.

Ulama' mesti menjelaskan kepada umat antara yang hak dengan yang batil agar mereka tidak menjadi bingung dan tidak tersesat.
Rasulullah saw bersabda :

"Sebaik-baik jihad adalah perkataan yang benar di hadapan penguasa yang zalim." (HR Ahmad)

Semua bentuk fitnah mesti dilawan oleh umat Islam seperti :
  1. Fitnah kemusyrikan.
  2. Fitnah merendah-rendahkan kehormatan Nabi saw.
  3. Fitnah pembunuhan.
  4. Fitnah pornografi.
  5. Fitnah merendah-rendahkan Islam dan umat Islam.
Manakala fitnah itu juga mesti dilawan dengan semua bentuk kekuatan yang dimiliki dan mampu dimiliki oleh umat Islam sehingga Islam menjadi ajaran yang unggul di muka bumi ini.

Allah swt berfirman :

"Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan." (QS Al-Anfal : 39)

Sedangkan cara yang praktikal yang mesti dilakukan oleh umat Islam iaitu sentiasa membaca Al-Qur'an dan menghafalkannya khususnya surah Al-Kahfi.

Rasulullah saw bersabda :

"Siapa yang hafal 10 ayat pertama surah Al-Kahfi, maka dia selamat dari Dajjal". (HR Muslim)

Ya Allah, selamatkanlah kami dan anak cucu kami dari fitnah Dajjal kerana ia merupakan fitnah yang paling besar yang akan dihadapi oleh manusia di akhir zaman. Tetapkanlah iman kami sehingga kami bertemuMu dalam keadaan tidak ada sedikitpun kesyirikan yang wujud di dalam hati kami.

Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS

kualiti seseorang aktivis dakwah

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,

Tarbiyah yang kita lalui sekarang ini seharusnya dapat meningkatkan kualiti seseorang aktivis dakwah.

Kita adalah pelaksana tarbiyah dan dalam masa yang sama kita juga merupakan sebahagian dari objek tarbiyah ummah.

Ukuran kualiti aktivis dakwah menjadi sangat relatif ketika dikaitkan dengan tuntutan orbit dakwah. Di orbit dakwah manapun kita berada, kita sentiasa diharapkan mampu untuk memikul tanggungjawab, samada tanggungjawab dalam masyarakat ataupun tanggungjawab organisasi.

‘Likulli marhalatin rijal’ (Setiap marhalah ada rijalnya)

Kita dituntut untuk melebihi orang biasa kerana kita telah meletakkan diri kita sebagai ‘Unsur Perubah.’

Perubah mestilah mempunyai nilai dan daya tarikan agar orang-orang di sekitarnya dapat :

  1. Dipengaruhi.
  2. Dirubah.

Itulah harapan Rasulullah saw kepada umatnya yang keadaannya ketika ini jauh dari harapan, yang diimpikan iaitu umat yang :

  1. Memiliki nilai akhlak yang tinggi.
  2. Memiliki daya tarikan ke arah kebaikan.
  3. Menjadi arus ke arah perubahan diri manusia.
Umat Islam yang berjumlah besar ini sudah tidak memiliki nilai, daya tarikan dan arus kuat sepertimana sabda Rasulullah saw yang mengibaratkan umat Islam di akhir zaman seperti buih. Keadaan ini disebabkan oleh keperibadian umat Islam yang tidak lagi berkualiti serta terkena penyakit ‘wahn’, iaitu :
  1. Cinta dunia.
  2. Takut mati.
Sepatutnya aktivis dakwah adalah orang-orang yang memiliki nilai tambah.
Semakin tinggi kualitinya, maka nilai positifnya semakin tinggi pula.’
Ini bererti ia akan menambah kuat arusnya terhadap masyarakat sekitarnya yang masih banyak nilai negatif sebagaimana yang kita belajar dari teori aliran elektrik.
Jadi dengan tingginya kualiti aktivis dakwah, mereka diharapkan dapat :
  1. Memberikan pencerahan nilai-nilai Islam.
  2. Menjadi arus Islam yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Mewarnai kehidupan masyarakat.
KUALITI SAHABAT RASULULLAH SAW
‘Wahai Nabi, Kobarkanlah semangat para mu’min untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu daripada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.” (QS Al-Anfal : 65)
Al Qur’an menggambarkan tingginya kualiti sahabat di mana aktivis yang dibentuk oleh Rasulullah saw berjumlah 20 orang sahabat boleh menyamai 200 orang musuh Islam.
Kualiti seperti ini adalah puncak kualiti sahabat yang pernah dilahirkan di zaman Rasulullah saw. Menjadi rahmat Allahlah bahwa kemudiannya Allah meringankan beban dan tanggungjawab umat Islam menjadi dua kali dari kekuatan musuh.
“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Anfal : 66)

Dengan keringanan ini bererti kualiti piawaian umat Islam adalah dua kali kualiti musuhnya.

Jika perkara ini menjadi acuan kita, maka seharusnya aktivis kita memiliki kualiti dua kali dari orang yang belum terbina dan dengan kerana itulah profil aktivis menjadi acuan kita dalam beramal dan memperbaiki diri dalam proses tarbiyah.

Jika profil tersebut telah kita miliki, maka kita dapat mengatakan bahwa aktivis tersebut adalah aktivis yang berkualiti. Dengan kualiti itu, maka ia dapat melaksanakan tugas dan kewajiban yang dibebankan kepadanya.

Di antara cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualiti aktivis dakwah adalah seperti berikut :
PERTAMA : MENINGKATKAN KESEDARAN BAHWA BERADA DALAM JALAN DAKWAH INI ADALAH NIKMAT ALLAH YANG MESTI DISYUKURI
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu kerana nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Al Imran : 103)
Kebersamaan dalam kerja dakwah adalah nikmat Allah yang mesti disyukuri dan ia boleh dilakukan dengan meningkatkan ubudiyah kepadaNya. Kualiti ubudiyah sangat tergantung kepada kualiti iman dan kefahaman.
Jika nikmat ini kita syukuri, maka dari hari ke hari kita akan bertanya dalam diri kita, apakah hari ini lebih baik dari hari sebelumnya atau tidak? Pertanyaan ini boleh menjadi motivasi diri untuk peningkatan.
Itulah yang sentiasa membakar semangat Ali bin Abi Talib yang selalu ingin harinya ini lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Bahkan kita mencatat ucapannya yang masyhur itu bahwa :
  1. Orang yang harinya lebih buruk dari hari sebelumnya termasuk orang yang celaka.
  2. Orang yang harinya sama dengan hari sebelumnya termasuk orang yang rugi.
  3. Orang yang beruntung adalah orang yang harinya ini lebih baik dari sebelumnya.
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “ Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), Maka Sesungguhnya azabKu sangat pedih.” (QS Ibrahim : 7)
Kesyukuran di atas nikmat berada dalam persaudaraan amal ini adalah dengan meningkatkan kefahaman Islam dan menjaganya agar tidak hilang.
KEDUA : MENUMBUHKAN DAN MENINGKATKAN SEMANGAT MENUNTUT ILMU
Ilmu menjadi faktor penting dalam meningkatkan nilai amal perbuatan.
Allah telah menegaskan bahwa tidak sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu.
“Apakah kamu (wahai orang musyrik) yang lebih beruntung ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “ Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS Az-Zumar : 9)
Orang yang berilmu adalah orang yang amalnya berkualiti. Ertinya, segala ubudiyahnya diperkuatkan dengan ilmu, pahalanya lebih besar dan lebih bernilai dibandingkan dengan orang yang tidak berilmu.
Dengan ilmu, amal perbuatan kita mampu terjaga agar tidak terkeluar dari tuntutan Ar Rasul. Kesesuaian amal dengan sunnah Rasul merupakan satu dari dua syarat diterimanya amal ibadah di sisi Allah Taala.
Semakin kita berilmu semakin kita dapat menjaga tingkatan kesesuaiannya dengan tuntutan Rasul dan semakin kita berilmu, kualiti dan nilai amal kita pun akan semakin tinggi di sisi Allah swt.
Bandingkan antara solat orang awam dengan solatnya orang yang berilmu yang memahami semua bacaan dan mentadabur bacaan solat! Pasti tingkatan kekhusu’annya akan juga berbeza.
Orang awam mungkin hanya dapat melaksanakan kewajiban dan berpahala kerana tidak melanggar perintah. Tapi orang yang berilmu, selain ia menunaikan kewajiban, ia juga mendapatkan ketenangan dan kedekatan kepada Allah Taala hasil dari penghayatannya terhadap bacaan solatnya.
Bukankah ini disebabkan oleh ilmu sehingga Imam Hasan Al Banna menjadikan ‘Al Fahmu’ sebagai rukun yang pertama dari rukun-rukun ba’iah yang sepuluh.

Jadi, kualiti aktivis dakwah akan ditentukan oleh salah satunya dengan kualiti ilmunya.

Lebih jauh lagi dalam perbahasan tentang kefahaman atau ilmu ini, Ustaz Musthafa Masyhur menegaskan bahwa penyimpangan dan kesalahan akibat kesilapan kefahaman dan kecetekan ilmu seseorang aktivis dakwah akan menyebabkan penyimpangan dalam gerakan dakwah yang sangat parah dibandingkan dengan kesalahan teknikal semata-mata yang dilakukan oleh aktivis dakwah akibat kelalaian atau kelemahan koordinasi dan kerjasama di medan.
KETIGA : BERTEMAN DENGAN ORANG-ORANG YANG SOLEH
Agama seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan pergaulannya.
Rasulullah saw menegaskan kepada kita bahwa jika kita ingin mengetahui kualiti keagamaan seseorang, maka lihatlah siapa yang bergaul bersamanya.
Jika teman-temannya adalah orang yang baik, maka dipastikan bahwa ia juga baik, tetapi jika didapati teman pergaulannya adalah orang yang tidak baik, maka kemungkinan besar dia juga tidak baik.
Ketika orbit dakwah membesar dan bertambah luas cakupannya, maka lingkungan pergaulan aktivis dakwah semakin terbuka dan luas. Hasil dari keterbukaan pergaulan ini, sedikit banyak ianya akan mempengaruhi ‘daya lindung’ aktivis.
Melihat perkembangan ini, peningkatan kualiti aktivis dakwah menjadi sesuatu yang sangat penting. Dalam keadaan ini, sebaiknya seseorang aktivis dakwah perlu meningkatkan jalinan silaturahim dengan aktivis dakwah lainnya secara berkala disebabkan mungkin kerana kesibukan kerja dan tugas dakwah menjadikan mereka jarang bertemu dan bersilaturahim.
Itulah yang dilakukan oleh Abdullah bin Rawahah ra ketika mengajak Abu Darda’ ra serta berkata :
“Ta’ala nu’min assaa’ah” (Marilah kita beriman (perbaharui keimanan) sebentar).
Begitu juga sebelumnya, Mu’az bin Jabal ra berkata kepada saudaranya sambil memberi nasihat.
“ Duduklah sebentar, mari kita beriman (perbaharui keimanan)”.
Ya Allah, permudahkanlah urusan kami sehingga kami mampu mempertingkatakan kualiti akhlak, daya tarikan serta menjadi arus kuat yang akan memberi pengaruh kepada manusia-manusia lain di sekeliling kami. Perkuatkanlah ia dengan rasa syukur kepadaMu, peningkatan ilmu dan kefahaman serta pergaulan yang baik dengan orang-orang soleh pilihanMu.
Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS

Perbezaan Rahmat, Perpecahan Azab

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,
"Ikhtilaf" atau berbeza pendapat dalam berbagai masalah agama adalah sesuatu yang wajar bahkan dalam keadaan tertentu menjadi suatu kemestian.
Ini adalah kerana manusia memang diciptakan berbeza-beza bahkan tidak keterlaluan jika dikatakan bahwa beberapa "perbezaan" itu memang dimaksudkan atau diinginkan oleh Pembuat Syariat iaitu Allah swt.
Jika Allah swt berkehendak untuk menurunkan Al-Qur’an dengan hanya memiliki satu interpretasi sahaja, maka perkara itu tidak sukar bagiNya. Begitu juga dengan Sunnah Rasulullah saw. Bahkan telah masyhur di kalangan ulama’ bahwa perbezaan dalam umat ini adalah rahmat.
Seorang ulama’ pernah menulis sebuah kitab dengan judul "Kitabul Ikhtilaf" (kitab perbezaan pendapat).
Ketika ia menunjukkan kitab itu kepada Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, beliau berkata :
"Jangan namakan kitab perbezaan pendapat, tapi namakan ia kitab keluasan."
Adalah sesuatu yang mustahil untuk menyatukan seluruh manusia dalam satu pandangan atau pemikiran tertentu kerana masing-masing mereka dianugerahkan oleh Allah swt perbezaan dalam:
1.    Pandangan.
2.    Ilmu.
3.    Tujuan.
4.    Keperluan.
5.    Situasi.
6.    Keadaan lingkungan.
yang sangat berpengaruh terhadap paradigma dan cara mereka berfikir.
Ini memang suatu kenyataan apabila kita melihat keadaan umat Islam di berbagai negara yang memang berlatarbelakangkan suku, adat istiadat dan bahasa yang berbeza-beza, ditambah pula dengan wujudnya kelompok-kelompok Islam yang berbagai ragam.
Sayangnya, kelompok-kelompok Islam tersebut sangat sukar untuk bersatu dan sangat suka berpecah belah hanya kerana perbezaan dalam perkara-perkara yang bukan termasuk  “Tsawabit”  agama (ajaran yang mempunyai sifat atau unsur yang tetap dan tidak berubah).
Padahal perbezaan-perbezaan tersebut bukanlah menjadi alasan untuk bersengketa atau berpecah-belah.
Allah swt tidak melarang berbeza pendapat sejak dari awal lagi tetapi melarang berpecah-belah gara-gara perbezaan pendapat tersebut.
Ulama’-ulama’ terdahulu sejak zaman sahabat, mereka berbeza dalam beberapa masalah namun mereka tetap terikat oleh tali Ukhuwah Islamiyah.
Perbezaan-perbezaan tersebut jika tidak ditangani dengan benar, kadang-kadang boleh menyebabkan muslim sesama sendiri :
  1. Saling mencela.
  2. Saling menyesatkan.
  3. Mungkin saling mengkafirkan.
Kita sering lupa bahwa kehormatan kaum muslimin adalah perkara yang amat dimuliakan di dalam Islam bahkan ia merupakan salah satu ‘maqashid’ (tujuan) agama ini iaitu memelihara kehormatan.
Ketika haji Wada`, Rasulullah saw bersabda :
"Sesunguhnya jiwa kamu, harta kamu dan kehormatan kamu haram (dinodai dan diganggu) seperti haramnya kehormatan hari ini, bulan ini dan tempat ini."
Namun gara-gara perbezaan yang sifatnya ‘ijtihadiyah’, kaum muslimin saling mencela dan menodai kehormatan sesama mereka.
Kita lupa pesanan Allah swt yang memerintahkan untuk berpegang teguh pada tali Allah dan melarang kita berpecah belah.
Allah swt berfirman :
"Dan berpegang teguhlah kamu pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu berpecah belah...." (QS Ali Imran : 103)
DI MANAKAH KITA MESTI SEKATA DAN DI MANA BOLEH BERBEZA?
Memang benar bahwa perbezaan mesti ditangani dengan sikap toleransi yang tinggi tetapi perbezaan yang dibenarkan adalah perbezaan yang memang boleh ditoleransi.
Untuk mengetahui samada sebuah perbezaan boleh ditoleransi atau tidak, perlu ada kejelasan terhadap kedudukan di mana letaknya umat Islam mesti bersatu dan di mana letaknya mereka boleh berbeza.
Ada dua wilayah perbezaan yang boleh kita teliti :
PERTAMA : Berbeza pada wilayah yang prinsip atau pokok-pokok agama yang merupakan asas-asas  dan pokok-pokok ajaran yang bersumber dari Al-Quran, Sunnah dan Ijma` umat.
Contohnya seperti :
1.    Masalah tauhid.
2.    Rukun iman.
3.    Kewajiban melaksanakan rukun Islam yang lima.
4.    Keyakinan tentang hari kebangkitan.
5.    Hari Akhirat.
Dalam hal ini, tidak boleh ada perbezaan di dalam tubuh Umat Islam kerana perbezaan dalam perkara ini akan menimbulkan perbezaan prinsip dan keyakinan yang mengakibatkan keluarnya seseorang dari jalan Islam.
Jika ada orang yang berkeyakinan bahwa rukun Islam yang lima tidak wajib dilaksanakan atau meyakini bahwa hari Akhirat itu tidak ada, keterangan-keterangan yang terdapat di dalam Al-Quran dan Hadits tentang hari Akhirat, padang Mahsyar, syurga dan neraka, tidak lain hanyalah kiasan dan tidak dimaksudkan dengan makna hakiki dari lafaz itu, seperti yang diyakini oleh kumpulan-kumpulan sesat seperti Batiniyah, Babiyah dan Bahai’yah, maka keyakinan seperti itu telah jauh terkeluar dari Islam.
Demikian juga dengan orang yang berkeyakinan bahwa ada nabi setelah Nabi Muhammad saw, yang membawa kitab suci baru, seperti keyakinan pengikut Ahmadiyah, maka keyakinan seperti itu juga dapat menyebabkan seseorang terkeluar dari Islam kerana keyakinan-keyakinan itu bukanlah perbezaan pada perkara furu`atau ranting bahkan ia jelas bertentangan secara langsung dengan asas-asas agama yang sifatnya ‘fundamental’ tersebut.
Bagi menangani perbezaan seperti di atas, setiap muslim mesti menampakkan identiti keyakinan dan keimanan mereka di mana mereka mesti tegas dengan mengatakan :
“ Mazhab kami benar, tidak mengandungi kesalahan sama sekali dan mazhab yang lain salah dan tidak mengandungi kebenaran sama sekali."
KEDUA : Perbezaan dalam masalah furu`atau ranting di mana perbezaan dalam perkara ini adalah wajar dan masing-masing mengikut pendapat yang seharusnya saling bertoleransi.
Namun, perbezaan dalam wilayah yang kedua ini tidak boleh membawa umat kepada perpecahan kerana perbezaan yang timbul dalam hal ini boleh jadi sekadar perbezaan ‘variatif’ yang semuanya benar dan saling melengkapi. Bahkan dalam perbezaan kontradiktif sekalipun, selagi mana masih dalam wilayah furu' dan ijtihadiyah dan masing-masing memiliki perbahasan yang cukup kuat, maka para penganut mazhab mesti tetap saling menghormati dan mencintai.
Dalam hal ini mereka seharusnya berkata seperti perkataan Imam Asy-Syafi`ie :
“Pendapatku benar tetapi boleh jadi mengandungi kesalahan dan pendapat selainku salah tetapi boleh jadi mengandungi kebenaran.”
Berbeza pendapat adalah perkara yang diperbolehkan, namun perpecahan kerananya tetap tidak diperbolehkan. Ini adalah kerana perpecahan jelas merupakan perkara yang dilarang oleh agama.
Sebagai contoh, perbezaan-perbezaan manhaj atau metod dakwah yang digunakan oleh  kelompok Islam masing-masing seringkali menjadi penyebab kepada perpecahan di antara mereka padahal mereka tidak berbeza pada asas-asas ‘fundamental’ dan pokok-pokok ajaran yang bersumber dari Al-Quran, Sunnah dan Ijma` Umat.
Mereka seharusnya berusaha untuk saling mendekati kerana perbezaan mereka hanya sebatas perbezaan dalam metod berdakwah yang sifatnya ijtihadi.
Ada sebahagian kelompok umat :
1.    Yang berdakwah dengan amar makruf nahi mungkar.
2.    Yang berdakwah dengan memurnikan ajaran tauhid.
3.    Yang berjihad secara langsung melawan musuh-musuh Islam.
4.    Yang berjuang dengan mengajar dan memberi pencerahan kepada umat.
5.    Yang berjihad dengan lisan dan tulisan.
6.    Yang berjihad dengan menuntut ilmu.
7.    Yang berjihad dengan hartanya.
Semuanya pada hakikatnya saling melengkapi kerana tidak mungkin satu kelompok dapat menjaga semua pos yang berusaha dijaga oleh kelompok lain.
Ukhuwah terlalu besar untuk dirosak dan dimusnahkan oleh masalah khilafiah dan ijtihadiyah.
Ukhuwah adalah perkara yang wajib dijaga sedangkan perpecahan terang-terang diharamkan oleh agama.
Lantas apakah kita akan meninggalkan perkara yang wajib lalu mengerjakan yang diharamkan?
Setiap mujtahid mendapat pahala ijtihadnya kerana mereka berijtihad untuk menggali suatu hukum, tidak semata-mata untuk mengikuti hawa nafsu belaka tetapi hanya untuk mencari kebenaran. Kemudian, setiap orang yang mengikuti pendapat salah satu imam mazhab, semuanya bermaksud untuk mentaati Allah swt dan mengikuti Rasulullah saw. Mereka juga hanya diwajibkan untuk beramal dengan hasil yang dicapai oleh ijtihad mereka.
Contoh tauladan kita adalah generasi awal umat ini yang dibina secara langsung oleh Rasulullah saw. Sebahagian mereka ada yang berbeza pendapat dalam masalah-masalah fiqh, namun hati mereka tetap satu, tidak saling berpecah atau membenci.
PERBINCANGAN DALAM BINGKAI UKHUWAH
Kemestian berbeza pendapat tidaklah mencegah umat Islam untuk mengadakan perbincangan ilmiah dalam berbagai masalah yang mereka perdebatkan. Perkara ini justeru sangat positif kerana dapat mengurangkan sikap fanatik terhadap mazhab atau golongan tertentu.
Dengan kajian yang mendalam terhadap dalil dan analisa ketepatannya, kita mampu membuat perbandingan antara banyak pendapat dan sebagainya, maka setidak-tidaknya kita akan sampai kepada pendapat yang benar atau secara minimanya kepada pendapat yang paling kuat.
Yang paling penting dalam perbincangan ini adalah :
1.    Keikhlasan untuk mencari kebenaran.
2.    Tidak ada kecenderungan atau kepentingan apapun selain dari di atas.
3.    Mesti berdasarkan kaedah saling nasiat-menasihati dan musyawarah.
4.    Tetap berada di bawah payung ukhuwah serta rasa saling mencintai.
Kalaupun berlaku perdebatan, ia bukanlah debat untuk memenangkan kepentingan peribadi atau golongan kerana perdebatan seperti itu boleh membutakan hati sehingga kita tidak dapat melihat kebenaran.
Perdebatan ini tidak akan membuahkan hasil apalagi menyelesaikan masalah, bahkan akan menjadi masalah itu sendiri dan merumitkan masalah yang telah ada.
Ketika perbincangan ilmiah telah sampai kepada sebuah pendapat yang terang kebenarannya, maka semua umat mesti bersatu dalam perkara itu.
Ini adalah kerana Allah swt tidak sekadar melarang berpecah-belah, tetapi juga melarang untuk tetap berselisih pendapat sesudah datangnya keterangan dan perbahasan yang jelas atas pendapat yang benar.
Allah swt berfirman :
"Dan janganlah kamu seperti orang yang berpecah-belah dan berselisih, padahal sudah datang kepada mereka keterangan yang nyata." (QS Ali Imran : 105)
Jadi, perbezaan pendapat sebenarnya hanya boleh dalam perkara-perkara ijtihadiyah yang memang belum ada dalil tegas yang menyelesaikan perbezaan yang ada dan kewajiban kaum muslimin ketika itu adalah tetap toleransi dan saling mencintai.
Namun jika dalil telah jelas dan tegas, maka dalam hal ini Allah melarang kita untuk berbeza kerana tidak ada ijtihad dalam perkara yang sudah jelas dan tegas dalilnya.
Nubuwwah Rasulullah saw menjelaskan bahwa akan berlaku di tubuh umat ini banyak :
1.    Kemaksiatan.
2.    Kezaliman.
3.    Penyimpangan.
4.    Kesesatan.
5.    Perpecahan.
Tapi, apakah kita mahu menjadi :
1.    Orang yang bermaksiat?
2.    Orang yang berbuat zalim?
3.    Orang yang menyimpang?
4.    Orang yang sesat?
5.    Orang yang berpecah belah?
Mengapa kita tidak berusaha untuk :
1.    Membersihkan hati kita.
2.    Menjalankan ketaatan.
3.    Melaksanakan perintah Allah dan RasulNya.
4.    Berlaku lurus dan adil.
5.    Berusaha menjalankan kewajiban mencintai kaum muslimin.
6.    Menjadi orang yang tetap melakukan usaha menyatukan kaum muslimin.
Sungguh, hidup ini :
  1. Terlalu mahal untuk dibayar dengan perpecahan dan perselisihan.
  2. Terlalu sempit untuk dipenuhi oleh rasa saling benci.
  3. Terlalu singkat untuk dihabiskan dengan perdebatan yang tidak bermanfaat.
Alangkah indahnya jika hidup yang mahal ini kita tebus dengan persatuan yang berlandaskan :
1.    Semangat ukhuwah yang tinggi.
2.    Saling cinta-mencintai.
3.    Manifestasi dengan amalan-amalan yang bermanfaat bagi masa depan dunia dan akhirat.
Ya Allah, satukanlah hati-hati kami di atas DeenMu yang lurus. Tautkanlah ia dengan semangat ukhuwah yang menyala. Janganlah engkau jadikan perbezaan di kalangan kami sebagai sebab kepada perselisihan dan perpecahan . Hindarkanlah hati kami dari perasaan kedengkian sesama saudara kami serta limpahkanlah perasaan saling cinta mencintai antara sesama kami.
Ameen Ya Rabbal Alameen
WAS